Ramadan dan Lebaran, Telkomsel Prediksikan Kenaikan Traffic 15%
Telkomsel mematangkan persiapan menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri (Rafi) 2024.
Tahun Baru Imlek (ilustrasi/JIBI/Bisnis)
Tionghoa Jogja mempersiapkan amplop merah.
Harianjogja.com, JOGJA-Berbicara tentang Imlek yang sebentar lagi akan dirayakan masyarakat Tionghoa di dunia, ada satu tradisi yang selalu lekat dengan perayaan tahunan ini. Apalagi kalau bukan tradisi bagi-bagi angpao.
Pengurus Kelenteng Poncowinatan Margomulyo mengatakan, angpao dalam tradisi Tionghoa selalu berwarna merah.
“Merah itu simbol keceriaan, kebahagiaan. Harapannya yang menerima maupun yang memberi selalu diberkahi dengan kebahagiaan. Nasib baik menyertai mereka selalu,” jelasnya, Rabu (27/1/2016) pekan lalu.
Biasanya angpao yang dalam Bahasa Mandarin adalah hong bao ini dihias dengan tulisan berbahasa Mandarin berwarna emas. Margo menyampaikan, sebagian besar tulisannya berbunyi fuk atau bahagia. Orang yang wajib memberikan angpao adalah mereka yang sudah menikah. Logikanya, kata Margo, dulu ketika belum menikah, orang tersebut diberi angpao oleh mereka yang sudah menikah sehingga harus bergantian.
Biasanya angpao diberikan untuk anak-anak. Namun, sebenarnya seorang anak yang telah menikah juga wajib memberikan angpao kepada orang tua. Khusus untuk orang tua, seorang anak wajib memberikan penghormatan terlebih dulu sebelum menyerahkan angpao tersebut. Caranya dengan mengepalkan kedua tangan sambil menunduk memberi hormat.
“Jangan sampai keliru. Tangan kiri yang di luar menggenggam tangan kanan. Kalau kanan yang di luar maknanya jadi beda, jadi menantang bukan berdamai,” jelas Margo.
Angpao biasanya terdiri dari berbagai ukuran. Ada kecil, sedang, dan besar. Angpao tidak hanya diberikan saat perayaan Imlek berlangsung. Para orang tua dapat memberikan angpao sampai 15 hari setelah Imlek atau sampai perayaan Cap Go Meh. Selain itu ada pula perayaan pesta pernikahan, syukuran rumah baru dan ulang tahun. Yang terpenting mengandung perayaan kegembiraan
Beberapa orang meyakini tradisi bagi-bagi angpao memiliki arti untuk mengusir setan dan Raksasa Nian yang akan menganggu anak-anak. Dalam tradisi Tiongkok, pengusiran setan dapat dilakukan dengan dua cara.
Pertama dengan mengikatkan koin China dengan tali berwarna-warni kemudian diletakkan di bawah kaki ranjang di mana anak tersebut tidur.
Cara kedua, memasukkan uang ke dalam amplop merah dan memberikannya pada anak kecil saat tahun baru Imlek. Caranya dengan menyelipkan amplop merah di bawah bantal saat anak-anak sedang tidur. Cara kedua ini yang hingga saat ini masih berlangsung dan berkembang menjadi tradisi bagi-bagi angpao.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Telkomsel mematangkan persiapan menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri (Rafi) 2024.
76 Indonesian Downhill 2026 di Bantul hadir dengan track ekstrem. Seeding run panas, final diprediksi makin sengit!
Presiden Kelima RI yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, menghadiri resepsi pernikahan Ignatius Windu Hastomo (Igo)
DPD DIY dorong percepatan pengesahan RUU Masyarakat Adat demi kepastian hukum dan perlindungan hak masyarakat adat.
Penelitian terbaru ungkap pola tulisan tangan bisa jadi indikator awal penurunan fungsi kognitif pada lansia.
Rupiah melemah ke Rp17.800, DPR tegaskan kondisi bukan krisis 1998. Sektor perbankan dinilai masih stabil.