Sawit Hadapi Tantangan Produktivitas dan Kebijakan
“Industri sawit membutuhkan kebijakan yang memperhatikan kepentingan seluruh pemangku kepentingan, termasuk perusahaan, negara, petani, dan masyarakat,"
Banjir Jogja di Klitren selalu terjadi saat hujan lebat lebih dari satu jam
Harianjogja.com, JOGJA- Tiap hujan lebat lebih dari satu jam, warga Kampung Klitren, Kelurahan Klitren, kecamatan Gondokusuman harus bersiap memindahkan harta benda ke tempat yang lebih tinggi agar tidak hanyut karena genangan air yang masuk sampai ke dalam rumah. Sampai saat ini kondisi tersebut menjadi aktifitas rutin yang tidak pernah terselesaikan.
Sri Wahyuni, sibuk menjemur sejumlah sarana permainan anak-anak yang tergenang air karena banjir. Ia baru saja selesai membersihkan lumpur yang memenuhi semua ruang kelas dan kantor di Taman Kanak-kanak (TK) Dharmarini di Jalan Kusbini bersama sejumlah guru dan komite sekolah.
Tidak ada aktivitas belajar mengajar di TK tersebut. "Sengaja diliburkan sehari untuk bersih-bersih," kata Sri Wahyuni yang juga Kepala Sekolah TK Dharmarini, saat ditemui, Rabu (25/1/2017).
TK Dharmarini tergenang air sampai sebatas paha orang dewasa saat hujan lebat terjadi, Selasa (24/1) siang. Saat itu memang semua murid TK sudah pulang sebelum pukul 12.00 WIB. Namun namun masih ada belasan siswa yang mengikuti Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) dan kelompok bermain (KB).
Beruntung genangan air itu tidak sampai menghanyutkan sarana belajar dan permainan karena sudah diantisipasi. Genangan air sekitar dua jam itu juga menyebabkan10 sepeda motor milik guru dan orangtua murid harus dibawa ke bengkel karena tidak bisa dihidupkan mesinnya setelah terendam.
Sri Wahyuni mengaku banjir, dua hari lalu merupakan terparah sejak tiga tahun terakhir. "Biasanya tetap banjir tapi tidak sampai masuk ruang kelas, kalau kemarin sampai ruangan," kata dia.
Padahal, sekolah tersebut sudah memasang biofori atau lubang resapan air sebanyak 12 lubang di depan sekolah, namun tak mampu menampung genangan air.
Genangan air itu dari luapan Kali Belik yang lokasinya berjarak sekitar 10 meter dari sekolah. Tidak hanya TK, namun puluhan rumah warga di Klitren Lor juga terendam. Suryadi, 34, warga RT08/ RW03 Klitren Lor mengaku sejak banjir melanda rumahnya pada Maret tahun lalu, ia berupaya menambah palang kayu sekitar setengah meter di pintu rumahnya dengan harpan air tidak masuk.
Namun tetap saja air bisa melebihi palang kayu, rumahnya pun tergenang. Ia mengaku banjir di sekitar rumahnya pasti terjadi setiap hujan lebat lebih dari satu jam akibat luapan Kali Belik. Proyek Embung Langensari yang diresmikan, beberapa waktu lalu pun dia anggap tidak ada pengaruhnya.
"Katanya embung untuk mengatasi banjir tapi kenyataannya tidak berpengaruh," ujar dia.
Menurut dia, luapan air terjadi karena menyempitnya Kali Belik. "Harusnya ada normalisasi," kata Suyadi.
Tidak hanya di Klitren Lor, namun banjir juga melanda Kampung Iromejan yang masih dalam Kelurahan Klitren. Bahkan satu rumah milik siti Rohayah dinding pagar bagian belakang roboh, kusen dan daun pintu, meja dan kursi hanyut terbawa arus Belik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
“Industri sawit membutuhkan kebijakan yang memperhatikan kepentingan seluruh pemangku kepentingan, termasuk perusahaan, negara, petani, dan masyarakat,"
Dewan Kerja Sama Teluk mengecam serangan Houthi ke Arab Saudi. Dua rudal balistik dicegat, sementara sebuah drone dihancurkan di Riyadh.
Pertamina menyiapkan tiga strategi untuk menjaga pasokan BBM, termasuk menambah pasokan, memperpanjang jam operasional, dan menambah layanan SPBU.
Hampir 1.000 orang ditahan dalam demonstrasi di Prancis yang diikuti lebih dari 400.000 orang untuk memprotes kenaikan biaya hidup.
MotoGP Australia 2026 dibatalkan akibat hujan dan kabut di Phillip Island. Veda Ega Pratama dan Mario Aji gagal tampil setelah Moto3 dan Moto2 dibatalkan.
Wakil Ketua DPRD Kota Jogja Sinarbiyat Nujanat meminta Pemkot mengoptimalkan kampung wisata budaya agar kunjungan wisatawan lebih merata.