30 Tahun Berlalu, Festival Udin Kembali Tagih Keadilan

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jum'at, 14 Agustus 2026 14:12 WIB
30 Tahun Berlalu, Festival Udin Kembali Tagih Keadilan

Festival Udin 2026 yang diselenggarakan AJI Jogja bersama sejumlah komunitas di kampus ISI Jogja

BANTUL– Tiga dekade kasus pembunuhan jurnalis Fuad Muhammad Syafruddin (Udin) belum juga terungkap dalangnya. Festival Udin 2026 kembali menghidupkan ingatan atas kasus itu sekaligus menagih keadilan yang tak kunjung tuntas.Peringatan yang berlangsung sejak Rabu (13/8/2026) hingga Sabtu (15/8/2026) ini menjadi ruang untuk terus menagih keadilan atas kasus Udin, yang telah mangkrak selama 30 tahun.

Seperti diketahui, Udin mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Bethesda pada 16 Agustus 1996 pukul 16.58 WIB akibat cedera fatal di bagian kepala. Tiga hari sebelum wafat, ia dianiaya secara brutal oleh pelaku tak dikenal di kediamannya yang berlokasi di Jalan Parangtritis KM 13, Dusun Gelangan Samalo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Mengusung tajuk “30 Tahun Kasus Udin: Menolak Bungkam, Melawan Perusakan Lingkungan”, festival ini menautkan semangat kritis Udin pada masanya dengan berbagai krisis ekologi hari ini. Ketua Panitia Festival Udin 2026, Vivi Maulida, secara tajam menyoroti kegagalan negara dalam mengungkap dalang kejahatan tersebut.

"Kasus ini sudah melintasi 7 Presiden RI, 13 Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), 2 Gubernur DIY, 24 Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) DIY, dan 8 Bupati Bantul. Tak satu pun dari mereka menuntaskan siapa dalang di balik pembunuhannya," urai Vivi dalam sambutannya.

Di sisi lain, Vivi memaparkan bagaimana eskalasi kerusakan lingkungan hidup saat ini turut memunculkan ancaman serius bagi kebebasan berekspresi kelompok sipil.

"Kejahatan ekologis selalu beriringan dengan represi. Saat alat berat meratakan ruang hidup warga, peluru, jerat hukum, hingga teror digital kerap diarahkan kepada jurnalis, aktivis, dan seniman yang berani merekam kehancuran tersebut," ungkap Vivi.

Upaya merawat ingatan ini turut digerakkan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta yang menggandeng berbagai elemen pers mahasiswa. Perwakilan LPM PRESSISI ISI Yogyakarta, Saynediva Malika Putri, menegaskan bahwa pers mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan politik yang konkret.

"Tentu penting bagi kami, sebagai pers mahasiswa, untuk tidak hanya hadir sebagai perekam isu dan euforia yang terjadi, baik di dalam kampus maupun di ruang sosial yang lebih luas.

Lebih dari itu, pers mahasiswa harus berdiri sebagai penyambung lidah bagi masyarakat yang mengalami ketidakadilan," ucap Saynediva.

Perlawanan Melalui Seni dan Arsip

Hari pertama festival turut diramaikan dengan pembukaan pameran seni dan tur kuratorial bertajuk “Bersama Penyaksi Bersaksi”. Perwakilan kurator, Adhi Pandoyo, menjelaskan bahwa pameran ini mengolah arsip tentang Udin dan menantang para seniman untuk merespons persoalan hak asasi manusia hingga kejahatan struktural.

“Kasus Udin adalah kunci untuk menggugat narasi negara yang selalu mengklaim baik-baik saja," kata Adhi.

Ruang pameran diisi oleh sejumlah karya yang sarat akan kritik sosial. ABDW Art Project, misalnya, menampilkan instalasi tentang proyek strategis nasional Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) di Gunungkidul. Karya berjudul Cleret Tahun, Karstku Tabunganku, Penjarahan Gunung Sewu itu mengkritik proyek infrastruktur yang menghilangkan habitat satwa, memicu kawanan kera menyerang lahan warga, dan membahayakan keselamatan pejalan kaki lansia.

Kelompok seni Taring Padi juga memamerkan trilogi visual mereka, meliputi Hak Asasi Manusia (2021), Bumi Manusia (2021), dan Adil dan Beradab (2023). Khusus karya Bumi Manusia, visualnya mengadaptasi bentuk Monumen Pembebasan Irian Barat untuk melayangkan kritik terhadap ekspansi tambang Freeport dan industri sawit di tanah Papua.

Bergeser ke area luar Concert Hall, sebuah instalasi dari Ibu Berisik berjudul Rewang Kenduri Melawan Tirani (2026) turut menarik perhatian. Karya ini meminjam praktik gotong royong masyarakat Jawa, yakni tradisi kenduri.

“Karya kolektif para ibu-ibu ini mengingatkan kembali pada kita tentang pentingnya merajut gotong royong antarsesama warga di tengah suasana negara yang serba kacau,” jelas Adhi.

Instalasi tersebut sekaligus menjadi respons atas tembang Lagu Buat Penyaksi yang dirilis grup Kantata Samsara pada 1997 silam. Pesan menolak mati bersama korban itu turut digaungkan oleh kelompok Corong Api melalui karya fasad bertajuk Keberanian Udin (2026).

Rangkaian hari pertama Festival Udin 2026 ini disempurnakan oleh aksi performance art Khuluqul Karim yang memerankan sosok Udin, penampilan musik dari Umar Haen, serta pemutaran film The Years of Blur. Agenda juga disempurnakan oleh dua sesi diskusi publik yang menyoroti diskriminasi jemaat Gereja Kristen Misi Sejahtera (GMS) Bantul serta reposisi peran jurnalisme dalam gerakan advokasi lingkungan dan bantuan hukum.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online