BANDARA KULONPROGO : Muncul Kegalauan di Balik NYIA

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Jum'at, 31 Maret 2017 18:20 WIB
BANDARA KULONPROGO : Muncul Kegalauan di Balik NYIA

Ratusan orang terlihat memadati kawasan Pantai Pulangsawal (Wisatawan sering menyebutnya Pantai Indrayanti), Kecamatan Tepus, saat libur lebaran lalu. Diprediksi, saat libur akhir tahun jumlah pengunjung di kawasan wisata di Gunungkidul melonjak hingga 200.000 orang. foto diambil Rabu (30/7/2014). (JIBI/Harian Jogja/David Kurniawan)

Bandara Kulonprogo memunculkan kegalauan

 

Harianjogja.com, JOGJA- Di tengah berkembangnya destinasi wisata di luar DIY sebagai dampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) nanti, muncul sebuah kegalauan.

"Bagaimana dengan pantai di Gunungkidul? Ada kekhawatiran di sini dan kegalauan ini harus dijawab," tutur Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, baru-baru ini.

Ada sebuah kekhawatiran bahwa niat baik untuk mewujudkan integrasi dan konektivitas wisata antarwilayah justru berpotensi memunculkan separasi antara satu wilayah dengan lainnya.

Sultan mengatakan, untuk turis lokal, kekhawatiran ini tidak menjadi masalah karena mereka bisa mengakses obyek wisata di Gunungkidul melalui jalur timur. Namun yang cukup menjadi kekhawatiran adalah turis asing yang langsung mendarat di NYIA. Jika peningkatan kualitas obyek wisata tidak dilakukan, bisa dimungkinkan turis asing lari ke Jawa tengah.

"Tapi kalau ada kawasan perhotelan jaringan internasional seperti di Nusa Dua bali, mungkin potensi di Gunungkidul tidak masalah untuk turis asing," katanya.

Pemerintah tengah mengupayakan untuk memberikan treatment kepada obyek wisata di Gunungkidul. Sultan mengatakan, jangan sampai Gunungkidul tidak masuk dalam pemasaran yang terintegrasi.

Sementara itu Ketua Asosiasi Jasa Pariwisata (Asita) DPD DIY Udhi Sudiyono mengatakan, Asita akan mengeksplorasi semua wisata yang berpotensi menjadi penopang wisata DIY. Tak dimungkirinya jika selama ini Candi Prambanan, Borobudur, dan Keraton masih menjadi highlight.

Salah satu jenis wisata yang bisa dikembangkan adalah desa wisata. Hanya saja tetap harus ada standarisasi wisata sehingga pelayanan dan aksesnya bisa memenuhi untuk turis mancanegara. "Gunungkidul sendiri harus punya yang wow, yang belum ada di Jogja. Aksesibilitas harus mudah," tuturnya.

Menurutnya, geopark di Gunungkidul tanpa adanya aksesibilitas dan  standarisasi, tidak bisa berjalan karena karakter turis mancanegara adalah mengutamakan kenyamanan dan servis.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis