Sri Sultan THB X Tunggu Kepastian Pemerintah Pusat soal Gaji PNS Lewat Kopdes
Sri Sultan menunggu keputusan pusat soal wacana gaji PNS lewat Kopdes Merah Putih. DPRD DIY mengingatkan risiko keamanan data.
Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu, mengusulkan agar balai RW atau balai kampung dimanfaatkan sebagai laboratorium Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Gagasan ini bertujuan memperluas pembelajaran nilai-nilai keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dari ruang kelas ke lingkungan masyarakat.
Menurut Dwi, balai kampung yang berada di sekitar sekolah dapat menjadi ruang pembelajaran untuk menghubungkan pendidikan dengan kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat. Dengan begitu, pengenalan nilai-nilai keistimewaan DIY tidak hanya bergantung pada materi yang disampaikan guru di sekolah.
“Justru enggak apa-apa, tetapi balai kampung juga menjadi laboratorium, bahwa ada hubungan antara kampus, kampung, dengan Kraton (Yogyakarta),” kata Dwi, Senin (26/10/2026).
Dia menilai fasilitas masyarakat tidak seharusnya hanya digunakan sebagai tempat pertemuan warga. Balai RW juga berpotensi mendukung kegiatan pendidikan yang berlandaskan kebudayaan lokal.
“Balai RW juga bagian dari nomenklatur pendidikan khas Jogja,” ujarnya.
Pendidikan Khas Jogja Libatkan Sekolah dan Masyarakat
Dwi menekankan pentingnya hubungan antara sekolah, kampus, kampung, dan Kraton dalam pelaksanaan Pendidikan Khas Kejogjaan. Keterhubungan tersebut diharapkan membuat generasi muda dapat mempelajari nilai-nilai keistimewaan DIY melalui lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Usulan pemanfaatan balai kampung juga sejalan dengan konsep Tri Sentra Pendidikan dalam PKJ, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga unsur tersebut memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak.
Dengan pendekatan ini, pendidikan tidak hanya mengandalkan proses belajar formal di sekolah. Lingkungan keluarga dan masyarakat juga diharapkan berkontribusi dalam menanamkan nilai-nilai budaya serta membentuk karakter generasi muda.
PKJ yang diresmikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bukan sekadar program pendidikan, melainkan gerakan kebudayaan untuk membentuk manusia yang utuh secara intelektual dan karakter.
Pendidikan tersebut berlandaskan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dalam kerangka PKJ, hubungan antara Kraton, instansi pendidikan, dan kampung menjadi bagian dari ekosistem pembentukan karakter di DIY. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima hasil pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembentukan karakter generasi muda.
Kompetensi Guru Jadi Tantangan Penerapan PKJ
Selain mengusulkan pemanfaatan balai RW, Dwi menyoroti kesiapan sumber daya manusia (SDM) sebagai salah satu tantangan dalam penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan.
Menurutnya, guru perlu memiliki pemahaman yang memadai mengenai keistimewaan DIY agar dapat mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam proses pembelajaran.
“Pendidikannya di mana? Di sekolah lagi. Pendidikan khas Jogja harus konsekuensinya adalah SDM. SDM yang mampu mengeksplor keistimewaan dalam pembelajaran,” kata Dwi.
Dia menilai peningkatan kompetensi pendidik diperlukan karena pemahaman tentang keistimewaan DIY belum tentu dimiliki seluruh guru. Penguatan kapasitas tersebut dapat dilakukan melalui pelatihan, bimbingan teknis, maupun pendidikan lanjutan.
“Kalau pun SDM yang sudah ada ya harus dinaikkan kompetensinya. Itu pasti berbasis anggaran, bisa bimtek, bisa sekolah,” ujarnya.
Menurut Dwi, dukungan anggaran menjadi salah satu aspek penting untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan materi pembelajaran yang berkaitan dengan keistimewaan DIY.
Balai RW Berpotensi Perluas Ruang Pembelajaran
Pemanfaatan balai RW sebagai laboratorium Pendidikan Khas Kejogjaan berpotensi memperluas ruang pembelajaran berbasis budaya hingga ke lingkungan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, nilai-nilai lokal dapat diperkenalkan tidak hanya melalui teori, tetapi juga melalui interaksi sosial dan kehidupan sehari-hari warga.
Meski demikian, usulan tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut mengenai bentuk kegiatan pembelajaran, peran pengelola balai RW, serta mekanisme pelibatan sekolah, kampus, dan masyarakat.
Kejelasan pelaksanaan diperlukan agar gagasan tersebut dapat terhubung dengan konsep Tri Sentra Pendidikan dan mendukung tujuan PKJ dalam membentuk karakter generasi muda yang berlandaskan nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sri Sultan menunggu keputusan pusat soal wacana gaji PNS lewat Kopdes Merah Putih. DPRD DIY mengingatkan risiko keamanan data.
Cinema Day 2026 digelar 27 Oktober dengan tiket bioskop reguler maksimal Rp25.000. Cek harga CGV, Cinema XXI, Cinepolis, dan ketentuannya.
DPRD DIY mengusulkan balai RW menjadi laboratorium Pendidikan Khas Kejogjaan untuk memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya Jogja.
Harga cabai rawit mencapai Rp88.642/kg pada pekan keempat Oktober 2026. Mendagri Tito mendorong perluasan tanam dan distribusi pasokan.
Polresta Sleman menggelar Operasi Patuh Progo 2026 selama 14 hari. Data mencatat 25.497 pelanggaran lalu lintas pada 2025.
Indonesia Kaya menghadirkan legenda Timun Mas dan Nyi Roro Kidul dalam delapan episode musikal vertikal yang tayang di TikTok.