Pemkab Gunungkidul Gandeng UGM Buka Layanan Jiwa di Puskesmas
Pemkab Gunungkidul menggandeng Fakultas Psikologi UGM membuka layanan kesehatan jiwa di puskesmas untuk memperkuat pencegahan bunuh diri.
Sejumlah perajin sedang membuat batik di salah satu rumah warga di Dusun Tegalrejo, Desa Tegalrejo, Gedangsari. Foto diambil beberapa waktu lalu. (IST/Pemdes Tegalrejo)
UMKM Gunungkidul berupa batik warna alam Jadi kebanggaan warga Tegalrejo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari menjadi salah satu sentra perajin batik di Gunungkidul. Oleh karenanya, pemerintah desa setempat akan terus fokus mengembangkan batik warna alam yang dimiliki.
Berkat kreasi para perajin yang mencapai ratusan orang ini, batik asal Tegalrejo dikenal luas. Namun yang paling membanggakan, dari kreasi ini telah memiliki motif sendiri. Adapun motif batik yang dimiliki antara lain Ratuning Gedangsari I, Ratuning Gedangsari II, Pring Sedapur dan Sekaring Gedangsari.
Kepala Desa Tegalrejo Sugiman mengatakan, kerajinan batik di desanya sudah ada sejak lama. Hingga sekarang tercatat ada 11 kelompok yang bergerak dalam industri batik.
“Kami bersyukur dari kelompok-kelompok yang ada masyarakat bisa diberdayakan dan memeroleh penghasilan dari membatik,” kata Sugiman kepada Harianjogja.com, Rabu (5/4/2017).
Menurut dia, pengembangan batik warna alam asal Tegalrejo tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, mulai dari pemkab, Pemerintah DIY hingga pemberdayaan masyarakat bantuan dari perusahaan. Adanya pengembangan batik ini, lanjut Sugiman, pemdes merasa sangat terbantu karena memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Untuk itu kami akan terus fokus dalam pengembangan batik ini sehingga karya yang dihasilkan dapat dikenal lebih luas lagi,” katanya.Tumbuhan Jadi Inspiratif Motif
Sementara itu, Koordinator Kelompok Batik di Desa Tegalrejo, Wisnu Budiharjo mengatakan, pemilihan nama batik warna alam Tegalrejo tidak lepas dari pewarnaan batik yang menggunakan bahan dari alam. Tak hanya itu, sambung dia, keberadaan motif yang dimiliki juga banyak diinspirasi keberadaan tumbuh-tumbuhan yang hidup di Tegalrejo.
Wisnu pun mencontohkan motif batik Ratuning Gedangsari. Inspirasi motif ini terbentuk dari beberapa kombinasi tumbuhan yang hidup di Gedangsari seperti bambu, srikaya dan pisang.
“Tidak hanya untuk motif saja. Masalah perwarnaan juga mengambil bahan-bahan dari tumbuhan yang hidup di area sekitar,” katanya.
Menurut dia, untuk pemasaran, perajin batik asal Tegalrejo telah mengikuti berbagai pameran dari tingkat lokal hingga nasional. Bahkan, di akhir bulan ini, kreasi batik warna alam Tegalrejo akan dipamerkan Inacraf di Jakarta. “Kita akan terus berupaya untuk berkreasi baik untuk pengayaan motif maupun pengenalan potensi pasar secara lebih luas lagi,” ujar Wisnu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul menggandeng Fakultas Psikologi UGM membuka layanan kesehatan jiwa di puskesmas untuk memperkuat pencegahan bunuh diri.
Pelapor Ruben Onsu mencabut laporan penipuan dan penggelapan dana Rp3,5 miliar setelah kerugian dilunasi secara kekeluargaan.
Timnas U20 Indonesia ditahan Malaysia 0-0 pada Kualifikasi Piala Asia U20 2027. Garuda Muda membuang sejumlah peluang emas.
Danantara menyiapkan desain investasi 2026-2027 untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027.
Sekitar 50 kampung di Jogja telah memiliki hidran. Kawasan padat seperti Pajeksan masih membutuhkan tambahan untuk antisipasi kebakaran.
Banjir bandang dan longsor di perbatasan Nepal-China menewaskan 919 orang. Sebanyak 4.793 lainnya masih hilang, termasuk 853 warga asing.