20 Kampung di Jogja Sudah Dipasang Hidran, Pajeksan Masih Butuh

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Senin, 31 Agustus 2026 18:27 WIB
20 Kampung di Jogja Sudah Dipasang Hidran, Pajeksan Masih Butuh

Petugas pemadam kebakaran Kota Jogja mengalirkan air pada instalasi Hidran Kering yang terpasang di Kecamatan Kraton, Jogja. /Harian Jogja-Desi Suryanto

Harianjogja.com, JOGJA— Pembangunan hidran kampung di Kota Jogja terus dilakukan untuk memperkuat penanganan kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat dengan akses jalan yang sulit dilalui kendaraan pemadam. Hingga tahun ini, sekitar 50 kampung telah memiliki fasilitas hidran.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Jogja, Taokhid, mengatakan pembangunan dilakukan secara bertahap dengan menyasar wilayah yang dinilai membutuhkan dukungan sumber air untuk pemadaman.

“Kalau target sampai 2029 itu tambah dua lagi,” katanya, Senin (31/8/2026).

Menurut Taokhid, kampung padat menjadi lokasi yang ideal untuk pembangunan hidran. Fasilitas tersebut penting terutama di wilayah yang memiliki jalan sempit atau sulit dijangkau kendaraan pemadam kebakaran.

Kebutuhan Hidran Baru Sekitar 50% Terpenuhi

Taokhid mengatakan pembangunan hidran di Kota Jogja saat ini baru memenuhi sekitar 50% kebutuhan. Pembangunan tersebut juga tidak seluruhnya dilakukan oleh Damkarmat Kota Jogja.

Sebagian hidran dibangun melalui program satuan kerja Kementerian Pekerjaan Umum maupun pemerintah provinsi. Namun, pembangunan oleh pihak lain tersebut terkadang menimbulkan persoalan teknis karena spesifikasi hidran belum seluruhnya sesuai standar Damkarmat Kota Jogja.

“Kadangkala permasalahannya aspek teknisnya tidak sesuai dengan apa yang kita standarkan,” ujarnya.

Salah satu perbedaan terletak pada model sambungan hidran. Damkarmat menggunakan model sambungan yang dinilai memudahkan petugas menyambungkan selang ketika menangani kebakaran, sedangkan sejumlah hidran menggunakan model ulir.

“Kalau mereka pakai ulir. Memang kalau ulir dari aspek kekuatannya lebih kuat. Cuma kita akhirnya harus menambah adaptor,” katanya.

Hidran Rusak Terkendala Status Aset

Selain spesifikasi teknis, pemeliharaan hidran juga menjadi persoalan. Damkarmat Kota Jogja belum dapat menganggarkan biaya perawatan untuk hidran yang belum tercatat sebagai aset dinas.

Kondisi tersebut membuat sejumlah titik hidran yang mengalami kerusakan membutuhkan perhatian lebih lanjut.

“Untuk perawatan atau pemeliharaan, kita tidak bisa menganggarkan karena aset belum masuk di kita,” ujarnya.

Pajeksan Masih Membutuhkan Hidran

Pembangunan hidran saat ini dilakukan di berbagai wilayah Kota Jogja dan tidak hanya menyasar kawasan bantaran sungai. Meski demikian, sejumlah kawasan di sekitar Sungai Filosofi masih membutuhkan tambahan fasilitas tersebut.

Salah satunya Kampung Pajeksan. Kawasan ini memiliki permukiman yang padat dan karakteristik wilayah yang dinilai membutuhkan dukungan hidran untuk mengantisipasi risiko kebakaran.

“Di kawasan Sungai Filosofi itu masih ada, seperti di Pajeksan,” katanya.

Damkarmat telah kembali mengusulkan pembangunan hidran di Pajeksan melalui Dana Keistimewaan (Danais). Namun, mekanisme penganggaran membuat realisasi pembangunan membutuhkan waktu.

Taokhid menjelaskan apabila usulan masuk pada 2026, pembangunan baru berpotensi direalisasikan pada 2028 karena mekanisme penganggaran Danais membutuhkan proses hingga dua tahun.

Sebelumnya, pembangunan hidran di Pajeksan juga telah diusulkan melalui buku kuning. Namun, usulan tersebut belum memperoleh anggaran karena adanya efisiensi.

“Kita coba masukkan lagi,” ujarnya.

Biaya Hidran Bisa Capai Rp2,5 Miliar

Besaran anggaran pembangunan hidran berbeda-beda bergantung pada luas wilayah dan tingkat kepadatan kampung. Taokhid mengatakan rata-rata biaya pembangunan satu hidran dapat mencapai Rp1 miliar hingga Rp2,5 miliar.

Pada kawasan tertentu, kebutuhan anggaran bahkan dapat mendekati Rp3 miliar. Nilai tersebut sangat bergantung pada kondisi lapangan.

Untuk Kampung Pajeksan, kebutuhan anggaran diperkirakan lebih rendah karena luas wilayahnya tidak terlalu besar, yakni sekitar Rp750 juta.

“Jadi sangat tergantung kondisi lapangan,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online