Daftar 10 Orang Terkaya Dunia Juli 2026, Elon Musk Nomor Satu
Forbes merilis daftar orang terkaya dunia Juli 2026. Elon Musk tetap di posisi pertama dan menjadi triliuner pertama dunia
Salah seorang penyuluh pertanian, Tugimin saat berada di halaman Kantor Badan Penyuluhan Pertanian Kecamatan Wonosari yang dipenuhi selada air yang ditanam dengan metode hidroponik, Minggu (26/3/2017). (JIBI/Irwan A. Syambudi)
Lahan sempit bukan halangan bagi warga untuk bercocok tanam
Harianjogja.com, SLEMAN- Lahan sempit bukan halangan bagi warga untuk bercocok tanam. Selain menambah keasrian, pendapatan warga bisa bertambah jika memanfaatkan lahan tersebut untuk bercocok tanam dengan sistem hidroponik.
Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan, masyarakat sudah mulai peduli dengan makanan-makanan sehat yang ditanam secara organik. Meski harga jual tanaman organik lebih mahal dari nonorganik, hal itu disiasati warga dengan menanam sendiri tanaman organik di pekarangan mereka.
"Kami berharap warga mampu memberdayakan lahan sempit di lingkungannya," katanya di Balai Besar Latihan Masyarakat Jogja, Jumat (9/6/2017).
Pelatihan Hidroponik sendiri diikuti oleh warga Dusun Beran Lor, Beran Kidul dan Dusun Drono. Peserta pelatihan diberi bantuan alat berupa bibit, instalasi, rockwool, benih, tempat penyemaian dan nutrisi, serta mendapatkan pendampingan dari pihak Balai hingga panen nanti.
"Program pelatihan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan ketrampilan bercocok tanam hidroponik untuk menciptakan kemandirian pangan di lingkup keluarga," katanya.
Pemkab, kata Sri, terus mendorong dan memfasilitasi kegiatan budidaya tanaman organik supaya bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas. Sleman juga akan mengembangkan sistem tanam hidroponik di masyarakat.
Salah dukungan yang dilakukan, memberikan bantuan stimulan peralatan pertanian kepada seluruh peserta pelatihan Hidroponik. Pemkab juga menyediakan pasar untuk tanaman organik ini di sekitar lapangan Pemda setiap hari Jumat.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Edi Sri Harmanta menjelaskan, pengembangan tanaman hidroponik bertujuan untuk meningkatkan sistem ketanahan pangan dengan memanfaatkan lahan pekarangan.
Masyarakat dapat mengoptimalkan lahan di tempat tinggalnya untuk menghasilkan bahan pangan yang segar, sehat dan aman dikonsumsi.
"Saat harga komoditas cabai tinggi, misalnya, itu tidak akan dirasakan jika warga memiliki tanaman cabai dalam polybag atau pot. Produksi yang melebihi kebutuhan sendiri juga bisa dipasarkan, dengan begitu pendapatan warga bisa meningkat dengan sistem ini," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Forbes merilis daftar orang terkaya dunia Juli 2026. Elon Musk tetap di posisi pertama dan menjadi triliuner pertama dunia
PSIM Jogja merekrut Adrian Dalmau, eks pemain akademi Real Madrid yang diproyeksikan mempertajam lini depan pada musim 2026/2027.
Sekolah Rakyat Kulonprogo mulai beroperasi pada 31 Juli 2026 meski pembangunan fisik belum sepenuhnya rampung.
PBB mencatat tingkat kelaparan global menurun pada 2025, tetapi target Nol Kelaparan 2030 masih menghadapi berbagai tantangan.
Investasi di Gunungkidul pada semester pertama 2026 mencapai Rp487,66 miliar atau 56,8% dari target investasi tahun ini.
Anggaran perbaikan Jalan Kunduran-Blora direvisi dari Rp14 miliar menjadi Rp2 miliar. DED pekerjaan pun disesuaikan dengan alokasi terbaru.