Minim Siswa, 3 SD di Sleman Digabung

Sekar Langit Nariswari
Sekar Langit Nariswari Rabu, 19 Juli 2017 14:20 WIB
Minim Siswa, 3 SD di Sleman Digabung

JIBI/Solopos/Ivanovich Aldino Guru bahasa Indonesi, Chatarina Hardianti, 54, mengajar siswa kelas 3 SD Negeri Mijen 2, Jebres, Solo, Jumat (28/11). Guru kelas diisi oleh guru tidak tetap (GTT).

Sebanyak 3 SD di Sleman digabung dengan sekolah terdekat dengan alasan minimnya siswa

Harianjogja.com, SLEMAN-Sebanyak 3 SD di Sleman digabung dengan sekolah terdekat dengan alasan minimnya siswa. Keputusan ini diambil setelah menilai animo siswa selama 4 tahun belakangan di SD terkait.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Sleman, Arif Haryono mengatakan sekolah yang digabung tersebut yakni SDN 1 Jambon, Gamping; SDN Njarakan, Minggir; dan SDN 1 Kadisobo, Sleman.

“Ada 3 SD yang dimerger, muridnya dimutasi karena animo siswa sedikit,” terangnya, Selasa(18/7/2017). Penggabungan dilakukan dengan sekolah di lokasi terdekat dengan juga mempertimbangkan jumlah siswa serta kapasitas sekolah.

Dinas Pendidikan Sleman sendiri sudah melakukan peninjauan terhadap sekolah tersebut selama beberapa tahun berturut-turut dan dinilai tak ada perkembangan. Arif menyebutkan jika salah satu sekolah bahkan hanya memiliki total siswa sebanyak 40 anak untuk semua kelas.

Adapun, SDN 1 Jambon digabung ke SD Tuguran, SDN Njarakan ke SD Sendangharjo, dan SDN 1 Kadisobo ke SDN 3 Kadisobo, semuanya di kecamatan yang sama. Arif menerangkan jika 3 sekolah tersebut sudah tak lagi menerima siswa baru pada PPDB lalu sementara siswa yang tersisa sudah dipindahkan.

Dijelaskan pula jika sebenarnya masih ada sejumlah SD lain yang kekurangan siswa meski tidak bisa serta merta digabungkan. Pasalnya, sekolah-sekolah itu berada di lokasi yang cukup jauh dari sekolah lainnya. Karena itu, apabila digabung kemudian malah akan mempersulit warga daerah setempat mendapatkan pendidikan.

Sri Wantini, Kepala Bidang Pembinaan SD di Dinas Pendidikan Sleman menerangkan jika guru yang berada di 3 sekolah itu juga ikut dipindahkan meski tidak melulu sama dengan muridnya masing-masing.

“Kekurangan guru banyak sekali di Sleman ini, jadi diposisikan di sekolah yang masih kurang saja,” jelasnya.

Dia juga menambahkan jika penggabungan ini tidak akan menghambat program wajib belajar masyarakat karena sudah diatur sedemikian rupa. Berdasarkan standar nasional, setidaknya 1 kelas di jenjang pendidikan SD berisikan 28 siswa. Sementara untuk jenjang SMP berisi 32 siswa.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online