Regulasi Baru Disiapkan untuk Lindungi Petani di Gunungkidul
DPRD Gunungkidul memprioritaskan Raperda Perlindungan dan Pemberdayaan Petani untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas petani.
Bayu Difsa kini tengah menjalani pengobatan.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Penyakit Difsa Saputri yang dialami sejak lahir telah diketahui oleh Pemerintah Desa Semanu Kecamatan Semanu, Gunungkidul. Dikarenakan masuk sebagai keluarga kurang mampu, Pemdes pun membantu memfasilitasi menguruskan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dilaksanakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Kepala Desa Semanu Andang Yunanto mengatakan keluarga Hadi Supono termasuk keluarga yang kurang mampu sehingga mendapatkan bantuan yang berupa Kartu Indonesia Sehat (KIS). Kendati demikian, pelayanan kesehatan ini belum bisa digunakan oleh Difsa karena yang bersangkutan belum tercantum dalam daftar penerima.
“Difsa masuk sebagai warga tercecer karena baru lahir dan belum sempat dimasukkan ke daftar penerima KIS,” kata Andang, Jumat (5/1/2018).
Menurut dia, pelayanan KIS baru dirasakan oleh Marsih (ibu Difsa). Sedang untuk perawatan, lanjut Andang, Pemdes telah membantu agar Difsa mendapatkan bantuan dan Bapel Jamkesos. “Setelah diurus ternyata dapat sehingga selama perawatan di Sardjito biayanya ditanggung oleh Pemerintah DIY,” ungkapnya.
Meski telah mendapatkan bantuan dari Bapel Jamkesos DIY, kata Andang, pemdes masih terus memantau kondisi Difsa yang sedang menjalani rawat jalan. Salah satunya membantu dalam upaya menyediakan transportasi saat periksa ke Sardjito. “Seharusnya masih dirawat di rumah sakit. Namun karena kekurangan biaya maka Difsa hanya menjalani rawat jalan,” katanya lagi.
Sebelumnya, Difsa Saputri, balita asal Dusun Bendorejo, RT06/RW15 kelahiran 8 Desember 2017 mengalami kelainan dengan kondisi kaki kiri membengkak dan membiru. Hingga sekarang, belum diketahui penyakit yang diderita anak kelima pasangan Hadi Supono dan Marsih ini.
Dia pun harus menjalani rawat jalan dan memeriksakan diri ke RSUP Sardjito setiap dua minggu sekali. Ayah Difsa, Hadi Supono mengatakan, kelainan yang dialami anaknya ini sudah diketahui sejak dalam kandungan, tepatnya saat memasuki usia delapan bulan. Saat di USG, lanjut dia, bidan yang memeriksa memberi tahu jika ada kelainan di kaki bagian kiri.
“Setelah lahir 28 hari lalu, Difsa langsung dirujuk ke Sardjito untuk mendapatkan perawatan lanjutan,” kata Hadi saat ditemui di rumahnya, Jumat (5/1/2018).
Selama 13 hari menjalani perawatan di Sardjito, Difsa telah diperiksa dengan ronsen sebanyak tiga kali. Namun dari hasil pemeriksaan itu, belum diketahui pasti penyakit yang diderita. “Kalau dari diagnosa awal diduga penyakit kaki gajah, namun dalam pemeriksaan oleh dokter yang diderita Difsa belum diketahui pasti,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul memprioritaskan Raperda Perlindungan dan Pemberdayaan Petani untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas petani.
Trisno, bassist legendaris PAS Band, meninggal dunia pada usia 55 tahun setelah menjalani perawatan akibat komplikasi penyakit. Musisi dan penggemar menyampaika
Kelemahan taktik Vietnam terbongkar jelang lawan Indonesia. Simak analisis pengamat dan peluang Garuda lolos semifinal Piala AFF 2026
Anggota Komisi IX DPR RI Vita Ervina menegaskan pembentukan mental calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan harus tetap mengutamakan budaya keselamatan dan manajemen
Nasirun meninggalkan warisan besar bagi seni rupa Indonesia. Dari kritik sosial era 1990-an hingga eksplorasi memorabilia pada 2025, karya-karyanya menjadi cerm
OpenAI memangkas harga GPT-5.6 Luna hingga 80 persen dan Terra 20 persen untuk menghadapi persaingan model AI murah dari China seperti DeepSeek dan Z.ai.