Arsitek 10 Negara Bahas Risiko Bencana di Jogja

Sunartono
Sunartono Rabu, 04 April 2018 18:10 WIB
Arsitek 10 Negara Bahas Risiko Bencana di Jogja

Sebagian peserta melakukan foto bersama di sela-sela pelaksanaan workshop, Rabu (4/4/2018).-Harian Jogja/Sunartono


Harianjogja.com,JOGJA--Puluhan arsitek dari 10 negara yang rawan bencana hadir di Jogja dalam Workshop Manajemen Risiko Bencana yang digelar Architech Regional Council Asia (Arcasia) pada Rabu (4/4/2018) hingga Kamis (5/4/2018). Para arsitek tersebut sebagian besar berasal dari negara yang memiliki kerawanan bencana tinggi di Asia.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY Ahmad Saifudin Mutaqi menjelaskan para arsitek serta akademisi yang hadir dalam temu ilmiah itu sebagian besar berasal dari ring of fire atau kawasan yang sering terjadi gempa bumi dan memiliki gunung api di dunia. Mereka di antaranya berasal dari India, Pakistan, Bangladesh, Jepang, Malaysia dan lain-lain.

Sebagai negara yang rawan bencana, Indonesia perlu belajar dari beberapa pakar dari negara lain seperti Jepang dalam hal penanganan gempa bumi. Sebaliknya, Indonesia dapat berbagi pengetahuan terkait penanganan bencana yang pernah ditangani kepada negara lain.

"Workshop ini saling share pengalaman, pemateri ada dari berbagai negara, termasuk Jepang, jadi bisa saling tukar ilmu," ujarnya, Rabu (4/4/2018).

Ia menambahkan pihaknya sengaja menghadirkan arsitek dari negara rawan bencana di Asia dengan harapan ada rumusan baru yang bisa menjadi pertimbangan pemerintah dalam merumuskan berbagai kebijakan terkait pembangunan.

Ia sepakat arsitek harus memiliki komitmen membantu pemerintah dalam mengurangi risiko bencana, dengan upaya menyajikan karya yang sesuai dengan peruntukannya serta penataan kawasan yang berpihak pada lingkungan sekitar.

Selain itu, DIY memiliki kekayaan cagar budaya yang besar, arsitek harus memberikan sumbangsih. Apalagi, saat gempa 2006 silam, beberapa bangunan cagar budaya tak luput terkena dampaknya. Ia berharap pemerintah terus meminta keaktifan arsitek sebagai tim penasihat konstruksi budaya (TPKB) maupun tim ahli cagar budaya (TACB).

"Paling tidak kami perlu memberikan saran kepada pemerintah terkait konstruksi. Dalam kegiatan ini kami mengajak para arsitek mengunjungi sejumlah kawasan terdampak bencana seperti Merapi, kawasan Kotagede dan kunjungan ke UGM dan UII," jelas dia.

Sekda DIY Gatot Saptadi yang hadir dalam acara tersebut mengakui pentingnya peran arsitek dalam menangani risiko bencana. DIY memiliki pengalaman buruk saat gempa 2006, banyak bangunan cagar budaya yang runtuh kebetulan milik warga kemudian dijual. Kenyataan itu, karena warga tidak memiliki pengetahuan yang memadai soal perbaikan.
 
"Termasuk membuat jalur evakuasi bencana, seperti di Merapi dan wilayah lainnya, butuh peran arsitek, ada pendekatan arsitektur yang digunakan," ujar dia.

Ketua IAI Ahmad Juhara menyatakan pihaknya sengaja memilih Jogja sebagai tempat bertemu para arsitek dari ring of fire karena DIY termasuk supermarket bencana di Indonesia. Nyaris berbagai jenis bencana pernah menimpa DIY. Karena itu, para peserta workshop tersebut dapat melihat hingga melakukan kajian singkat terkait dampak bencana di DIY.

"Ini menjadi tantangan para arsitek juga agar menciptakan karya konstruksi yang sesuai dengan karakter wilayah," ucapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online