Magelang Siap Gelar Interhash, Distoria, dan SBY Cup 2026
Magelang siap gelar Interhash 2026, Distoria 2026, dan SBY Cup 2026. Pemkot pastikan kesiapan event internasional dan dampak ekonomi.
Sejumlah siswa SMAN 1 Ngemplak, Sleman mengarak gunungan dalam kegiatan kirab budaya yang digelar sekolah tersebut, Rabu (18/4/2018)./Dok-SMAN 1 Ngemplak
Harianjogja.com, SLEMAN--Sejumlah SMA terus menunjukkan kekhasan untuk mendukung program mewujudkan pendidikan di DIY terkemuka di Asia Tenggara. SMAN 1 Ngemplak, Sleman misalnya, berupaya menyiapkan diri menjadi sekolah berbasis budaya.
Kepala SMAN 1 Ngemplak Waraun menjelaskan pihaknya berusaha menggali dan mengembangkan potensi di lingkungan sekolah untuk menjadi sekolah berbasis budaya. Ia sepakat pengembangan itu bisa dimulai dari pengenalan budaya tradisional yang lebih dahulu harus dipahami siswa dan guru di sekolah. Harapannya, untuk mendukung basis budaya ini, basis lingkungan dan olahraga menjadi salah satu yang akan dikembangkan.
"Kami akan gali dan kembangkan budaya tradisional yang lain sesuai dengan rencana strategis sekolah di masa yang akan datang, yakni menuju sekolah yang berbasis lingkungan, olahraga dan seni budaya," ucapnya, Kamis (18/4/2018).
Ia menambahkan sejumlah sumber daya manusia (SDM) sudah dipersiapkan untuk mendukung sekolah berbasis budaya. Selain dalam proses pembelajaran dalam kelas, penerapannya akan ditekankan juga pada penguatan unsur budaya dalam kegiatan ekstrakurikuler. Lingkungan sekitar menjadi salah satu alasan untuk mengembangkan sekolah budaya. Selain karena SDM sekolah cukup untuk mendukung, kampung sekitar sekolah banyak desa wisata.
"Ada pakar budaya Jawa, yakni guru bahasa Jawa. Ada guru ekstrakurikuler tari, kesenian hadrah dan lain-lain. Lingkungan sekolah sangat mendukung. Banyak desa wisata dan grup kesenian," ujar dia.
Alasan lain, lanjut Warsun, kegiatan budaya diharapkan dapat menunjang dunia pariwisata di DIY yang sejalan dengan visi menjadikan DIY sebagai pusat pendidikan dan destinasi wisata terkemuka di Asia Tenggara di 2025.
Warsun menegaskan sebagai bentuk implementasi menuju sekolah berbasis budaya, dalam rangka HUT sekolah, pihaknya menggelar kirab budaya mengelilingi Desa Bimomartani berkolaborasi dengan masyarakat pada Selasa (18/4/2018) pagi.
Pada kirab tersebut, sekolah mengarak sejumlah gunungan berisi aneka hasil bumi mulai dari buah dan sayuran diiringi musik tradisional Baduwi dan Gamelan. Kegiatan kirab ini sekaligus menjadi tontonan gratis bagi warga karena baru pertama kalinya digelar oleh sekolah.
Selain itu ada penampilan seni tradisional kubra siswa dan pertunjukan seni bela diri. Kegiatan itu sebagai salah satu kepedulian sekolah untuk melestarikan kebudayaan lokal. "Agar generasi muda lebih mengenal dan mendalami lagi budaya yang menjadi kekaguman bangsa lain," katanya.
Kegiatan lain yang digelar sebagai pendukung HUT sekolah, yaitu lomba olahraga dan seni futsal, voli, pameran karya siswa seperti lukisan dan kerajinan tangan dengan memanfaatkan barang bekas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Magelang siap gelar Interhash 2026, Distoria 2026, dan SBY Cup 2026. Pemkot pastikan kesiapan event internasional dan dampak ekonomi.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.
Gempa M6,3 guncang Jepang timur laut. Shinkansen dihentikan, Miyagi terdampak, namun PLTN Fukushima dilaporkan aman.
Perdagangan hewan kurban di Bantul naik jelang Iduladha 2026. Kambing paling diminati, omzet pedagang diprediksi melonjak.