Puting Beliung di Jogja Terjadi Akibat Awan Cumulonimbus, Ini Penjelasan BMKG

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Selasa, 24 April 2018 21:37 WIB
Puting Beliung di Jogja Terjadi Akibat Awan Cumulonimbus, Ini Penjelasan BMKG

Kondisi bangunan usai diterjang puting beliung di Jogja, Selasa (24/4/2018)./Harian Jogja-Abdul Hamid Razak

Harianjogja.com, JOGJA- Kepala kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jogja Djoko Budiyono menjelaskan sebagian besar wilayah DIY masih masuk pancaroba. Pada masa ini jenis awan-awan yang terbentuk adalah awan-awan konvektif seperti cumulonimbus yang sifatnya seringkali lokal.

"Awan ini berpotensi menyebakan hujan intensitas lebat dan dalam durasi singkat, angin kencang/puting beliung dan petir," katanya kepada Harianjogja.com, Selasa (24/4/2018).

Kecepatan angin puting beliung yang terjadi di Baciro dan sekitarnya bisa mencapai 63 km perjam. Menurutnya, jam-jam potensi munculnya cuaca ekstrim dimasa pancaroba umumnya terjadi di sore hari.

"Pada siang hari terjadi proses pembentukan awan kemudian di sore hari setelah awannya terbentuk cukup besar. Maka potensi hujan disertai petir dan angin kencang bisa muncul dari awan tersebut," katanya.

Munculnya angin kencang dan puting beliung, jelas Djoko berasal dari awan cumulonimbus atau CB. Didalam awan ini, terdapat pergerakan angin yang cukup kuat (golakan angin).

Pergerakan angin yang kuat  dari dalam awan ini bisa keluar hingga permukaan bumi yang disebut "Downburst" ini yang menyebabkan terjadinya puting beliung," katanya.

BMKG akan terus memberikan informasi terkait potensi bencana angin agar warga mewaspadainya. "Masa pancaroba ini diprakirakan akan berlangsung hingga awal Mei," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online