Australia Indonesia Arts Forum Fasilitasi Pengembangan Seni Dua Negara

Holy Kartika Nurwigati
Holy Kartika Nurwigati Jum'at, 04 Mei 2018 05:50 WIB
 Australia Indonesia Arts Forum Fasilitasi Pengembangan Seni Dua Negara

Para inisiator, pengamat seni dan akademisi dari Australia Indonesia Arts Forum (AIAF) meresmikan keberadaan AIAF dengan memukul gendang secara bersama-sama di Bale Raos Restaurant, Kamis (3/5/2018)./Harian Jogja-Holy Kartika N.S

Harianjogja.com, JOGJA-Guna mendukung potensi seniman-seniman muda berbakat, Australia Indonesia Arts Forum (AIAF) siap menjembatani karya-karya seni untuk diperkenalkan ke seluruh dunia. Melalui Project 11, karya-karya kontemporer para seniman Indonesia ini terus menarik perhatian warga Australia.

"Project 11 ini memiliki misi mendukung kreativitas seniman muda dengan mendanai proyek mereka," ujar Public Relation Project 11, Resika Tikoalu seusai peluncuran AIAF di Bale Raos Restaurant, Kamis (3/5/2018).

Resika mengatakan selama ini masyarakat Australia kebanyakan menilai seni kontemporer hanya berkembang di Amerika dan Eropa. Namun, dalam kurun waktu beberapa tahun ini, antusiasme warga Negeri Kangguru terhadap seni konteporer Indonesia semakin tinggi.

Keunikan dan potensi seni kontemporer di Indonesia terus tumbuh di berbagai kota. Terutama Jogja, yang memang notabenenya merupakan salah satu kantong seni di Indonesia.

"Maka dari itu, kami ingin membuat satu wadah untuk menjembatani antara Australia dan Indonesia, yakni bisa melalui kerja sama pertukaran seniman, pelajar, pertukaran pendidikan, tentunya yang mengacu pada bidang seni," jelas Resika.

Upaya untuk menjembatani seni dari kedua negara ini yakni adalah agar budaya serta seni yang berkembang dapat saling dikenal. Sehingga harapannya dapat memberikan apresiasi yang lebih terhadap karya-karya seni dari para seniman, baik dari Indonesia maupun Australia.

Inisiator AIAF, Konfir Kabo menambahkan bentuk kerja sama yang dilakukan melalui forum ini beragam. Forum ini juga akan memfasilitasi pendanaan yang dibutuhkan oleh seniman muda yang membutuhkan anggaran dalam menggarap proyek seninya.

"Bisa juga dengan pertukaran seniman. Di mana kami akan mendukung mereka yang akan melakukan residensi seni, baik di Indonesia maupun di Australia. Kenapa seni yang kami pilih, karena seni itu sesuatu yang netral, tidak punya warna, agama maupun kelamin, sehingga bisa didiskusikan bersama," jelasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online