Mata Kuliah Pancasila di Bangku Kuliah Perlu Didesain Ulang

Sunartono
Sunartono Minggu, 10 Juni 2018 04:17 WIB
Mata Kuliah Pancasila di Bangku Kuliah Perlu Didesain Ulang

Ilustrasi Pancasila/JIBI

Harianjogja.com, SLEMAN-Sebagian besar akademisi sepakat menjadikan Pancasila sebagai benteng ancaman radikalisme. Mata kuliah Pancasila di perguruan tinggi perlu didesain ulang agar sesuai dengan perkembangan zaman dan lebih bisa didalami oleh para mahasiswa.

Ketua Bidang Penjaminan Mutu Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (Aptisi) DIY Johanes Eka Priyatma menjelaskan, membumikan Pancasila tidak harus melalui pusat studi khusus yang menangani Pancasila. PTS di Jogja memang banyak yang belum memiliki pusat studi karena keterbatasan sumber daya dan biaya. Selain itu jika kepentingannya untuk mendidik, pusat kajian belum menjadi urgen untuk dibentuk oleh perguruan tinggi yang kapasitas risetnya terbatas.

“Itu tergantung pada kapasitas PTS, karena mengembangkan pusat kajian itu membawa berbagai konsekuensi, seperti ketersediaan sumber daya, tenaga, biaya,” terangnya kepada Harianjogja.com, Jumat (8/6/2018).

Ia menyarankan, solusi tetap pada peningkatan kualitas mata kuliah Pancasila agar posisinya lebih kontekstual dan relevan bagi kaum muda masa kini. Sehingga harus didesain ulang atau pembaharuan terhadap mata kuliah tersebut. Jika langkah redesain ini tidak dilakukan bisa jadi dianggap kurang menarik atau bersifat indoktrinasi oleh mahasiswa yang muaranya bisa dihindari oleh mahasiswa.

“Mata kuliah ini harus dikontekstualisasikan dengan tantangan zaman, kalau dulu yang muncul lebih ke pendekatan indoktrinatif, saya kira pembelajaran semacam itu sudah kurang relevan tetapi diarahkan ke pembelajaran yang menopang berkembangnya kesadaran, tanggungjawab cara berfikir kritis mensikapi keadaan,” terangnya.

Koordinator Kopertis Wilayah V DIY Bambang Supriyadi terkait Pancasila tersebut pihaknya sudah melakukan training of trainer kepada 100 dosen PTS di DIY dengan harapan ilmu tersebut dapat ditularkan di kampus masing-masing. Karena banyak PTS di Jogja yang masih kecil maka lebih baik pada integrasi nilai Pancasila pada setiap mata kuliah. Ia sepakat dengan desain ulang mata kuliah Pancasila melalui integrasi tersebut sehingga lebih banyak nilai yang bisa diterima mahasiswa.

“Kalau Cuma PTS kecil ngapain harus pusat studi, kecuali kalau yang besar seperti UGM dan yang besar lainnya. Terpenting ada dosen yang mampu mengajarkan Pancasila itu di setiap prodi,” ungkap dia.

Dosen Mata Kuliah Pancasila UGM Iva Ariani menyatakan, saat ini UGM juga sedang berproses melakukan desain ulang mata kuliah Pancasila. Pimpinan UGM telah membentuk tim yang bertugas mendesain ulang mata kuliah Pancasila untuk kebutuhan lebih lanjut. Selain Pancasila, termasuk pendidikan kewarganegaraan dan agama. Namun tim tersebut tidak serta merta menggantinya dengan yang baru, melainkan lebih pada menelaah, apakah sudah tepat atau belum, jik sudah tepat maka akan lebih diperkuat. Tetapi jika mata kuliah tersebut belum kuat maka akan dicari kekurangannya untuk diperbaiki.

“Maka kami akan redesain lagi, susun lagi karena barangkali mata kuliah yang kami sampaikan salaam ini belum mengena ini, kami akan mendesain lagi. Tetapi bukan mengganti, kami akan evaluasi bersama-sama,” ujar wanita yang juga Kabaghumas dan Protokol UGM ini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online