Sistem Zonasi di Gunungkidul Tidak Perlu Dikhawatirkan

Herlambang Jati Kusumo
Herlambang Jati Kusumo Rabu, 20 Juni 2018 16:37 WIB
Sistem Zonasi di Gunungkidul Tidak Perlu Dikhawatirkan

Ilustrasi pendidikan.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi tidak perlu menjadi kekhawatiran orang tua atau siswa sendiri saat mendaftar ke sekolah baru.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Bahron Rosyid mengatakan, sistem zonasi tersebut dalam rangka memeratakan mutu dan layanan pendidikan, termasuk di Gunungkidul.

“Dengan sistem zonasi diharapkan mengurangi tingkat mobilitas peserta didik, kalau dekat kenapa harus mencari yang jauh. Kedua, mengurangi bahkan menghilangkan kasta atau strata di dunia pendidikan,” kata Bahron, Selasa (19/6/2018).

Selain itu, menurutnya dengan zonasi semua siswa dapat belajar bersama baik yang pintar maupun kurang. Anak yang pandai menurutnya selain harus tanggung jawab diri sendiri juga memiliki tanggung jawab teman sejawatnya.

Bahron mengatakan menurutnya semua sekolah di Gunungkidul sama saja, baik dari segi fasilitasnya maupun dari gurunya. Menurutnya dengan sistem zonasi juga tidak mengurangi hak siswa untuk memilih sekolah yang jauh dari tempat tinggalnya.

“Masih ada lewat jalur prestasi sebanyak banyaknya lima persen, dan lima persen berdasar jalur khusus diperuntukan warga anak bencana alam atau konflik, anak pejabat negara yang sedang ditugaskan negara, atau anak dari pendidik di sekolah itu. Namun, jika lebih dari lima persen nanti akan diseleksi berdasar nilai juga. Untuk yang berdasar jarak rumah 90 persen minimal,” katanya.

Sementara itu, untuk SMK tidak diberlakukan sistem zonasi, karena merupakan minat khusus siswa. “Untuk tingkat SD tidak ada ujian tes masuk, seleksi akademik tidak ada. Hanya batasan umur saja tujuh tahun, jika di bawah itu harus punya sertifikat dari psikolog profesional,” katanya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Gunungkidul Wahyu Pradana Ade Putra mengatakan, dengan sistem zonasi dirasanya pendidikan akan semakin baik. “Hal ini malah merupakan motivasi bagi pemerintah dan sekolah untuk menyiapkan standar pendidikan baik secara infrastruktur maupun hal lainnya,” kata Ade.

Ia berharap dengan sistem zonasi akan terjadi kompetisi yang sehat antar sekolah, dan SDM yang baik akan memotivasi anak didik yang lain dalam sekolah. “Harapannya yang pandai dapat memotivasi yang lain,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online