30 Tahun Berlalu, Festival Udin Kembali Tagih Keadilan
Peringatan yang berlangsung sejak Rabu (13/8/2026) hingga Sabtu (15/8/2026) ini menjadi ruang untuk terus menagih keadilan atas kasus Udin, yang telah mangkrak
Rumah terancam longsor akibat abrasi di bantaran Sungai Oya di Desa Sriharjo, Imogiri, Senin (25/6/2018)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, BANTUL -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul akan menggelar sekolah sungai bagi komunitas pencinta sungai di Kabupaten Bantul pada Agustus mendatang.
Tujuan kegiatan ini untuk menggerakkan masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan, khususnya di wilayah aliran sungai di Bumi Projo Tamansari.
Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto mengatakan kondisi sungai di wilayah Bantul sudah mulai masuk tahap mengkahwatirkan. Selain karena ada pendangkalan, kondisinya diperparah dengan aktivitas membuang sampah sembarangan oleh masyarakat.
“Harus dilakukan tindakan sehingga sungai bisa diselamatkan sehingga pencemaran bisa dicegah,” kata Dwi kepada wartawan, Kamis (12/7/2018).
Guna memberikan kesadaran dan pemahaman pentingnya ekosistem sungai, BPBD bekerja sama dengan Pemerintah Pusat akan menyelenggarakan sekolah sungai. Rencananya sekolah sungai digelar Agustus mendatang dengan melibatkan sembilan komunitas pencinta sungai di wilayah Bantul. “Kami dapat bantuan anggaran Rp200 juta dan kami gunakan untuk menggelar sekolah sungai,” ucap dia.
Dwi menuturkan untuk menjaga ekosistem sungai butuh komitmen bersama sehingga hasilnya dapat maksimal. Rencananya, dalam sekolah sungai para sukarelawan akan diberikan bimbingan dan pelatihan terkait kebersihan sungai hingga upaya penanganan saat terjadi pencemaran.
“Sudah kami siapkan programnya dan nanti perwakilan dari sembilan komunitas di Bantul akan diikutkan dalam pelatihan tersebut,” tuturnya.
Dwi berharap hasil dari sekolah sungai dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan sungai. Ilmu-ilmu yang didapatkan selama pelatihan dapat ditularkan ke sukarelawan yang lain sehingga upaya menjaga ekosistem dapat berjalan dengan baik.
Pembina Komunitas Masyarakat Turun Kali (Maturka) di Dusun Bintaran Wetan, Srimulyo, Piyungan, Ahmad Fikri mengatakan keberadaan komunitas Maturka merupakan bentuk kegelisahan terhadap ekosistem sungai yang mulai mengalami penurunan. Oleh karena itu, masyarakat di Bintaran Wetan tergerak untuk membuat komunitas dengan tujuan menjaga dan menyelamatkan ekosistem sungai.
“Kami akhirnya sepakat mengedukasi bersama sehingga sungai bersih dan asyik bermain, bebas banjir,” kata Dwi.
Menurut dia, komunitas Maturka berkomitmen menjaga ekosistem dan sering bersih-bersih sungai. Selain itu, anggota komunitas juga mengawasi oknum yang menangkap ikan dengan cara instan seperti meracun hingga menyetrum.
“Jangan sampai ekosistem dan ikan di sungai punah karena ulah-ulah orang tak bertanggungjawab,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Peringatan yang berlangsung sejak Rabu (13/8/2026) hingga Sabtu (15/8/2026) ini menjadi ruang untuk terus menagih keadilan atas kasus Udin, yang telah mangkrak
KPK menduga sejumlah Kantah di Jatim menyetor uang ke oknum Kanwil BPN Jatim setelah penyidik menemukan uang ratusan juta rupiah.
Blue fire muncul di Kawah Gunung Papandayan. Badan Geologi turun ke lapangan dan mengimbau warga tak beraktivitas dalam radius 500 meter.
Warga Sentolo, Kulonprogo, meninggal setelah masuk gorong-gorong untuk membersihkan sampah yang diduga menyumbat aliran air.
Kaspersky menemukan situs palsu yang menawarkan iPhone 18 dengan harga fiktif. Pengguna diminta waspada sebelum memasukkan data pribadi.
Ratusan peserta membersihkan Pantai Baru Bantul. Gerindra mendorong kebersihan menjadi budaya untuk mendukung pariwisata dan ekonomi hijau.