Top Ten News Harianjogja.com Edisi Minggu 6 September 2026
Top Ten News Harianjogja.com Minggu 6 September 2026 merangkum kabar kebakaran DIY, erupsi Anak Krakatau, ekonomi, budaya, hingga olahraga.
Ilustrasi mahasiswa. (Reuters/Fabian Bimmer)
Harianjogja.com, SLEMAN--Kementerian Agama kerap mengalami kesulitan dalam mencari kandidat calon penerima beasiswa yang akan dikirim di sejumlah perguruan tinggi di negara barat salah satunya dalam program 5.000 doktor. Musababnya, kemampuan bahasa Inggris akademisi di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tergolong rendah dan tidak memenuhi standar.
Kenyataan itu terungkap dalam seminar Peran Ujian Kemampuan Berbahasa Inggris dalam Pengembangan Kapasitas Insan Akademik dan Institusi Pendidikan PTKIN di UIN Sunan Kalijaga, Selasa (17/7/2018). Forum itu diikuti 57 perwakilan baik pimpinan maupun dosen perguruan tinggi negeri di bawah Kementerian Agama.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Profesor Yudian Wahyudi menjelaskan Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama memiliki program mencetak 5.000 doktor yang beberapa persennya diharapkan menempuh pendidikan di negara barat. Sayangnya, untuk tujuan perguruan tinggi di barat kekurangan pelamar karena kemampuan bahasa Inggris rendah.
"Salah satu kelemahan PTKIN adalah bahasa Inggris. Kegiatan ini salah satunya untuk merespons hal itu, agar ada pembibitan sejak awal dalam kemampuan berbahasa Inggris," kata Yudian, Selasa (17/7/2018).
Lulusan Amerika Serikat ini mengatakan, kenyataan itu mungkin disebabkan karena PTKIN sering berorientasi ke Timur Tengah dalam proses pendidikan sehingga lebih mengutamakan bahasa Arab. Padahal, kata dia, harus diakui banyak ilmu yang bisa didapatkan di barat. Indonesia justru lebih banyak mengirim mahasiswa untuk belajar agama di Timur Tengah dalam jumlah banyak.
"Kalau ke Timur Tengah memang sebaiknya belajar agama, tetapi yang dikirim ke sana sudah terlalu banyak," kata dia.
Ia mengatakan kegiatan seminar dan pelatihan itu sebagai jembatan bagi seluruh PTKIN di Indonesia untuk memperbaiki kemampuan bahasa Inggris. Selain mendaftar beasiswa di negara barat kemampuan bahasa Inggris bisa mendaftar di berbagai negara di dunia. Karena syarat utama untuk bisa ke negara barat penguasaan toefl harus tinggi, belum lagi untuk tingkatan doktor akan lebih ketat.
"Kalau tidak digerakkan, ke depan kita akan terus kekurangan yang akan dikirim ke negara barat," ujarnya.
Direktur Indonesian International Education Foundation (IIEF) Diana Kartika menilai lemahnya kemampuan berbahasa Inggris sebenarnya tidak hanya terjadi di PTKIN tetapi juga perguruan tinggi umum lainnya. Menurut dia, minimnya kemampuan bahasa itu harusnya menjadi masalah besar sebagai negara besar yang paling banyak mendapatkan jatah beasiswa dari luar negeri.
"Tetapi penyerapannya susahnya setengah mati mencari kandidat untuk bisa diterima beasiswa. Program 5.000 doktor itu dalam pantauan kami termasuk susah mencari kandidat, masalahnya apa? kemampuan bahasa Inggris," jelas dia.
Diana menilai masalah itu harus segera direspons pemerintah. Mengingat, banyak orang-orang hebat yang terganjal tidak bisa lolos ke luar negeri hanya karena kemampuan bahasa Inggris tidak memenuhi standar.
"Mungkin karena banyak masyarakat menganggap remeh bahasa, kemudian saat butuh persyaratan skor toefl baru kelabakan mencari dan berlatih bahasa," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Top Ten News Harianjogja.com Minggu 6 September 2026 merangkum kabar kebakaran DIY, erupsi Anak Krakatau, ekonomi, budaya, hingga olahraga.
PSS Sleman kalah dari Bali United pada laga perdana. Pieter Huistra berharap PSS Fans kembali memberi energi saat menjamu Madura United.
Harga iPhone Duo di Malaysia dan Singapura mulai Rp40 jutaan. Simak harga tiap kapasitas, jadwal pre-order, spesifikasi, dan aturan IMEI.
Alumni pondok pesantren di Sleman melaporkan dugaan kekerasan seksual yang terjadi dua kali. Polisi kini masih menyelidiki laporan tersebut.
Mercedes mengajukan teknologi mobil yang bisa mengapung dan bergerak di air. Rodanya menjadi penggerak, dilengkapi sensor, GPS, dan pelampung.
Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi pos pemantauan Gunung Merapi sekaligus memastikan situasi di kawasan lereng Merapi tetap aman dan kondusif.