195 Stan Ramaikan JCW 2026, Kopi Dibidik Jadi Magnet Wisata Jogja
Jogja Coffee Week #6 menghadirkan 195 booth dan peserta internasional. Pemda DIY mendorong kopi menjadi daya tarik wisata dan ekonomi Jogja.
Ilustrasi wisuda mahasiswa. (Reuters/Fabian Bimmer)
Harianjogja.com, JOGJA--Kopertis Wilayah V Yogyakarta terus mengupayakan merger sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) gurem di DIY agar manajemennya sehat. Satu kampus di DIY akan melebur menjadi satu secara nasional di bawah yayasan. Namun DIY akan berdiri satu PTS lagi dari yayasan berbeda yang juga hasil dari merger secara nasional.
Koordinator Kopertis Wilayah V Yogyakarta Bambang Supriyadi menyatakan hingga jelang tahun akademik 2018/2019 dimulai, belum ada perkembangan signifikan terkait merger kampus lokal di DIY. Semua masih dalam proses negoisasi internal yayasan dan upaya memenuhi segala persyaratan perubahan bentuk ke Kemenristekdikti. Kopertis terus mendorong kampus tersebut agar memilih merger demi meningkatkan kualitas ketimbang kuantitas.
"Jadi sampai saat ini belum berubah, semua masih proses. Kami terus mengupayakan, kalau yang sudah berhasil [merger] kan Unjani," kata dia, Rabu (25/7/2018).
Meski demikian, ada satu kampus di Jogja yang sudah dimerger dengan sejumlah kampus serupa di berbagai daerah di Indonesia, yaitu Bina Sarana Informatika (BSI) Jogja. Bambang menegaskan BSI Jogja tidak berdiri sendiri lagi seperti sebelumnya, tetapi akan menjadi Program Studi Diluar Kampus Utama (PSDKU) yang kampus pusatnya di Jakarta. Merger BSI dilakukan melibatkan sekitar 21 kampus seluruh Indonesia.
"Namanya Universitas BSI. Kampus utamanya di Jakarta dan BSI Jogja menjadi salah satu PSDKU-nya selain beberapa daerah lain," katanya.
Selain BSI, kata Bambang, akan berdiri sebuah kampus di Jogja yang berada di bawah Yayasan Mahakarya dan menjadi PTS baru yang terdiri dari beberapa kampus lain dari disiplin ilmu ekonomi, bisnis dan pariwisata. Saat ini Mahakarya sudah memiliki kampus di Jakarta dan Palembang yang keduanya direncanakan menjadi PSDKU, sedangkan pusatnya akan berdiri di Jogja.
"Sebenarnya itu merger antara Mahakarya, kemudian dengan dua PTS di Jogja yang satu dari unsur ekonomi satunya lagi dari pariwisata serta ada yang dari Jakarta dan Palembang," ucapnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Bidang Penjaminan Mutu Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) DIY Johanes Eka Priyatama menyatakan merger dari sejumlah institusi yang berbeda memang bukan perkara sederhana. Karena ada dampak, mulai dari naik turunnya jabatan seseorang di organisasi baru.
Jika merger dilakukan dengan paksaan, kecil kemungkinan bisa berjalan dengan baik. Sehingga perlu ada program pemberian intensif oleh pemerintah yang bisa menjadi jalan tengah dalam menggabungkan dua organisasi yang memiliki tradisi berbeda.
"PTS bisa berjuang untuk kepentingan yang lebih besar, muncul kerelaan untuk dimerger kalau ada insentif atau ada hibah dan sejenisnya yang bisa membantu. Itu bisa menjadi solusi atas persoalan kualitas yang dihadapi," jelas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jogja Coffee Week #6 menghadirkan 195 booth dan peserta internasional. Pemda DIY mendorong kopi menjadi daya tarik wisata dan ekonomi Jogja.
Danantara menyoroti rencana pengalihan dividen Rp120 triliun ke APBN dan meminta investasi jangka panjang tetap menjadi perhatian.
Peneliti UGM Eddy Kiswanto memetakan tiga kategori UMKM dan mendorong transformasi dari survival menjadi wealth creator.
Semangat berdikari di bidang pangan kembali digaungkan dari jantung Kota Jogja melalui Festival Mustika Rasa yang digelar pada 29–30 Agustus 2026 di Alun-Alun
Kemdiktisaintek menyiapkan RPL bagi mahasiswa kesehatan yang melewati batas studi untuk mempercepat pemenuhan tenaga kesehatan.
China mewaspadai bencana susulan setelah banjir Nepal-Tibet. Ratusan korban masih hilang dan ancaman danau glasial terus dipantau.