Marbot di Sleman Dapat Santunan BPJamsostek Rp42 Juta di Milad DMI
Milad ke-54 DMI Sleman diwarnai penyerahan santunan Rp42 juta kepada marbot. Program perlindungan ini hasil kolaborasi BPJamsostek, Baznas, BSI, dan Pemkab Slem
Ilustrasi air minum dalam kemasan/Womenshealthmag
Harianjogja.com, JOGJA- Rata-rata volume sampah yang dihasilkan Kota Jogja dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan selama Juni tercatat 257 ton per hari. Dari jumlah tersebut 20% berupa sampah plastik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jogja Suyana mengatakan pengendalian sampah plastik harus dilakukan. Pasalnya jumlah sampah plastik yang dihasilkan terus meningkat.
Sampah plastik tersebut banyak berasal dari botol plastik air minum kemasan. Menurutnya diperlukan berbagai upaya agar sampah plastik yang dihasilkan bisa diminalisasi, salah satunya dengan gerakan dari masyarakat.
DLH berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membawa botol minum dari rumah. “Kami lakukan gerakan pengurangan botol plastik air minum kemasan dengan penggunaan tumbler atau botol minum yang dibawa sendiri dari rumah dan bisa diisi ulang,” katanya, Rabu (1/8/2018).
Diakuinya, belum semua pihak memiliki kesadaran terhadap bahaya sampah plastik. Mereka memilih membeli minuman kemasan dalam botol karena dinilai lebih praktis dibandingkan dengan mereka harus membawa botol minum dari rumah. “Selama ini yang masih membawa tumbler atau botol minum adalah anak-anak sekolah. Yang lainnya banyak yang memakai botol air kemasan,” katanya.
Dia berharap, seluruh pegawai dan masyarakat setiap hari membawa tumbler sejak dari rumah. Dengan begitu, sampah plastik dari gelas air minum sudah bisa dikurangi. "Gerakan seribu tumbler atau botol minum yang dapat digunakan berulang-ulang," ujarnya.
Selain gerakan penggunaan tumbler, para pelajar juga diajak berlaku bijak terhadap sampah jenis plastik. Di antaranya dengan kreasi daur ulang botol minuman dari plastik. "Kami ingin semua bisa bijak memanfaatkan barang-barang dari plastik. Paling tidak, jangan sampai berakhir menjadi limbah. Harus bisa didayagunakan," tandasnya.
Menurutnya, peningkatan volume sampah plastik itu tidak bisa dipandang remeh. Sampah jenis plastik menjadi ancaman serius bagi lingkungan hidup karena sulit diurai dan selalu berakhir menjadi limbah. "Volume sampah plastik di Jogja cukup tinggi, yakni hingga mencapai 20 persen dari total 257 ton sampah yang diangkut ke TPST Piyungan setiap hari," katanya.
Walikota Jogja Haryadi Suyuti menjelaskan upaya pengendalian sampah melalui gerakan tumbler bukan semata seremonial. Dia akan mengajak seluruh ASN untuk memberikan contoh. Namun demikian Pemkot belum berencana membuat regulasi berupa perwal terkait pelarangan sampah jenis plastik.
"Semangatnya bukan dengan melarang, tapi harus sadar betul. Limbah plastik memberikan bukti bagaimana ancaman nyata bagi makhluk hidup," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Milad ke-54 DMI Sleman diwarnai penyerahan santunan Rp42 juta kepada marbot. Program perlindungan ini hasil kolaborasi BPJamsostek, Baznas, BSI, dan Pemkab Slem
Sebanyak 78 atlet dari enam negara mengikuti Panglima TNI Cup 2026 dan Kejurnas Paralayang di Bukit Joglo, Wonogiri.
Cek harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian Minggu 23 Agustus 2026, lengkap dengan harga jual dan buyback
BMKG memprakirakan mayoritas wilayah Indonesia cerah berawan pada Minggu, termasuk Jogja. Sejumlah daerah berpotensi hujan dan kabut.
Cek rute dan tarif Trans Jogja 2026, mulai Rp500 untuk pelajar hingga Rp3.500 untuk pembayaran tunai.
Ole Romeny mendapat kartu merah saat Fortuna Sittard kalah 0-2 dari AZ Alkmaar. Justin Hubner tampil membela Fortuna hingga pertandingan berakhir.