Urus Paspor Kini Bisa di Gunungkidul, Tak Perlu ke Kota Jogja
Layanan paspor kini hadir di MPP Dhaksinarga Gunungkidul, memudahkan warga tanpa perlu ke Kota Yogyakarta atau Sleman.
Kepala BPAD Bantul Agus Sulistyana (berdiri) saat melihat proses restorasi arsip letter C milik Desa Segoroyoso di Bantul Expo 2018. Rabu (1/8/2018). /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, BANTUL – Badan Perpustakan dan Kearsipan Daerah (BPAD) Bantul melakukan kegiatan restorasi arsip milik desa dalam gelaran Bantul Expo 2018 di kawasan Pasar Seni Gabusan, Desa Timbulharjo, Sewon. Kegiatan ini untuk menyelamatkan jejak peristiwa masa lalu agar tetap bisa diakses oleh generasi mendatang.
Kepala BPAD Bantul Agus Sulistyana mengatakan, keberadaan arsip milik desa sangat penting. Ini lantaran sebagai upaya melihat sejarah perkembangan desa.
Menurut dia, hingga saat ini masih banyak yang belum paham tentang pentingnya menyelamatkan arsip. Terlebih lagi, untuk pemeliharaan juga tidak mudah sehingga dibutuhkan langkah-langkah agar upaya penyeleamatan bisa dilakukan. “Salah satunya melalui stan milik BPAD di Bantul Expo 2018,” kata Agus kepada wartawan, Rabu (1/8/2018).
Dia menjelaskan, di dalam penyelamatan kerasipan ini desa dijadikan obyek. Seluruh desa diminta melaporkan terkait dengan kepemilikan arsip, untuk kemudian dilakukan langkah penangan terhadap arsip-arsip yang mulai rusak.
“Dari 75 desa, hampir semua mengeluh arsip yang dimiliki sudah mulai rusak dan meminta bantuan agar dilakukan restorasi,” ungkapnya.
Rata-rata arsip desa yang minta diselaatkan berupa peta tanah desa dan letter C kepemilikan tanah. Menurut Agus, dua dokumen ini sangat penting sehingga harus dijaga keberadaanya.
“Dari hasil restorasi ini, kami menemukan arsip tertua yang pernah ditemukan oleh BPAD, yakni peta desa Barongan, Sumberagung, Kecamtan Jetis tahun 1928. Ini menjadi yang tertua ditemukan karena sebelumnya yang terdokumentasi di depo arsip baru merekam arsip di 1942 tentang akta kelahiran yang tertulis dalam tiga bahas, Jawa, Belanda dan Indonesia,” urainya.
Lebih jauh dikatakan Agus, restorasi arsip yang dilakukan BPAD sudah dimulai sejak 2016 lalu. Hanya saja, upaya mandiri baru terlaksana sejak tahun ini karena di tahun-tahun sebelumnya mendapatkan bantuan dari Arsip Nasional dan Pemerintah DIY.
“Untuk penyelamatan di 2016 dibantu Arnas, sedang di tahun lalu dibantuk provinsi. Untuk tahun ini, kami mengalokasikan Rp300 juta untuk menyelamatkan arsip yang ada di Bantul,” katanya.
Arsiparis BPAD Bantul Lilik Nur Kholida mengatakan, hingga sekarang, pihaknya sudah menyelamatkan ribuan arsip. Jumlah ini sudah termasuk arsip milik desa yang berhasil direstorasi dalam gelaran Bantul Expo. “Sudah ribuan. Kalau di 2016 baru 100 lembar, tahun lalu 400 arsip dan tahun ini sudah ada 1.000an yang berhasil diamankan,” katanya.
Menurut dia, kerusakan arsip terjadi karena beberapa faktor mulai dari kesalahan manusia hingga kelembapan udara sehingga mempercepat kerusakan. “Arsip harus dijaga. Oleh karenanya dilakukan restorasi sehingga dapat terselamatkan sehingga bisa diakses generasi mendatang,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Layanan paspor kini hadir di MPP Dhaksinarga Gunungkidul, memudahkan warga tanpa perlu ke Kota Yogyakarta atau Sleman.
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.