63 Ribu Anak Gunungkidul Berpeluang Masuk Sekolah Rakyat

David Kurniawan
David Kurniawan Senin, 18 Mei 2026 19:37 WIB
63 Ribu Anak Gunungkidul Berpeluang Masuk Sekolah Rakyat

Sekolah Rakyat yang tuntas direnovasi oleh Nindya Karya. ANTARA/HO-Nindya Karya

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Proses penjaringan calon siswa program Sekolah Rakyat tahun ajaran 2026/2027 di Kabupaten Gunungkidul mulai dilakukan. Berdasarkan klasifikasi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), terdapat sekitar 63 ribu anak yang memenuhi kriteria untuk mengikuti program tersebut.

Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Gunungkidul, Suyono, mengatakan proses rekrutmen diawali dengan sosialisasi dan identifikasi calon siswa yang memenuhi persyaratan.

Menurut dia, Sekolah Rakyat diprioritaskan bagi anak putus sekolah maupun keluarga kurang mampu yang masuk kategori desil satu dan dua dalam DTSEN.

“Sudah dilakukan klasifikasi desil satu dan dua, maka ada sekitar 63.299 anak yang bisa masuk ke sekolah rakyat. Untuk datanya sudah sesuai dengan by name by address [BNBA],” kata Suyono, Senin (18/5/2026).

Calon siswa tersebut tersebar di 18 kapanewon di Gunungkidul. Namun, jumlah penerimaan peserta didik masih terbatas karena kuota Sekolah Rakyat di Daerah Istimewa Yogyakarta belum banyak.

Untuk tahun ajaran 2026/2027, kuota sementara hanya tersedia masing-masing 60 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.

“Jumlah ini nantinya juga masih dibagi untuk calon siswa yang ada di kabupaten dan kota di DIY,” ujarnya.

Dalam proses penjaringan, Dinas Sosial P3A Gunungkidul melibatkan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), pekerja sosial, serta Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) di seluruh kapanewon.

Tim bertugas melakukan sosialisasi, pendataan, hingga membantu proses input data calon siswa ke aplikasi Sistem Evaluasi Terpadu Sekolah Rakyat (Setara).

Suyono menjelaskan petugas juga melakukan kunjungan langsung ke rumah warga sasaran untuk menawarkan program Sekolah Rakyat kepada keluarga yang memenuhi kriteria.

Jika masyarakat berminat, data calon siswa akan dimasukkan ke sistem untuk proses seleksi lebih lanjut.

“Masih proses dan mudah-mudahan dapat berjalan dengan lancar,” katanya.

Ketua Tim PKH Gunungkidul, Risman Setyo Nugroho, menambahkan proses sosialisasi dan penjaringan calon siswa berlangsung hingga Juni 2026.

Menurut dia, program Sekolah Rakyat menjadi salah satu upaya pemerintah memperluas akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu sekaligus menekan angka putus sekolah.

“Harapannya jangan sampai anak yang tidak sekolah karena tidak memiliki biaya,” kata Risman.

Ia mengungkapkan rekrutmen Sekolah Rakyat sebenarnya sudah dimulai sejak 2025. Pada tahun lalu, terdapat 25 anak asal Gunungkidul yang diterima mengikuti program tersebut.

Pada 2026, cakupan penerimaan diperluas karena tidak hanya membuka jenjang SMA, tetapi juga SD dan SMP.

“Untuk rekrutmen tahun ini lebih luas karena tidak hanya di tingkat SMA, tapi juga ada perekrutan jenjang SD dan SMP,” ujarnya.

Program Sekolah Rakyat diharapkan mampu membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap mendapatkan akses pendidikan dan kesempatan melanjutkan sekolah di tengah keterbatasan ekonomi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online