Asita Khawatir Kenaikan Harga Tiket Pesawat Hambat Pertumbuhan Wisata
Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY menilai kebijakan kenaikan harga tiket pesawat akan menghambat pertumbuhan wisatawan
Ilustrasi monyet ekor panjang./Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Serangan hewan liar kembali merepotkan warga. Kali ini warga Desa Putat, Kecamatan Patuk, Gunungkidul dibikin resah dengan munculnya monyet ekor panjang yang merusak lahan pertanian milik mereka.
Monyet-monyet itu turun gunung diduga lantaran makanan di habitatnya habis. Beberapa petani di Dusun Gedora serta Batur, Desa Putat kerepotan untuk bertani lantaran serangan monyet itu.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Gunungkidul Bambang Wisnu Broto justru mengaku belum menerima laporan terkait dengan kerusakan lahan pertanian akibat monyet ekor panjang tersebut. “Belum menerima laporan saat ini. Dulu memang sempat ada laporan tentang monyet ekor panjang yang menyerang lahan pertanian warga, kami coba atasi dengan melakukan penanaman buah-buahan di habitatnya. Seharusnya masyarakat juga belajar menjaga alam habitat mereka, agar tidak kekurangan pangan dan merusak lahan warga,” kata Bambang, Minggu (5/8/2018).
Bambang mengatakan di Gunungkidul memang sering muncul monyet ekor panjang. Mulai dari Kecamatan Semin, Ponjong, Tepus, Paliyan, Purwosari pernah ada laporan terkait serangan monyet itu, dan pernah dilakukan upaya penangkapan, namun tetap lolos.
Untuk mengatasi masalah tersebut, menurut Bambang diperlukan sinergi semua pemangku kepentingan termasuk juga masyarakat untuk menjaga alam. Jika memang ada serangan monyet, Bambang mengharapkan warga dapat mengirimkan foto kerusakan lahan, dan monyet tersebut.
Sebelumnya, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY, Junita Parjanti hingga kini pihaknya masih belum menemukan formula yang tepat untuk menanggulangi permasalahan tersebut. “Belum ada solusi yang tepat, tapi kami saat ini sedang lakukan pendataan daerah mana saja yang menjadi habitat kera dan rawan terjadi serangan,” ujar dia.
Prajanti menjelaskan kemungkinan kera menyerang lahan pertanian karena habitat aslinya mulai terganggu. Akibatnya sumber pakan mereka yaitu buah-buahan menjadi menipis. “Dari pengalaman saya, memang ada kemungkinan seperti itu, makanya kami coba cek lagi. Adapun yang paling pas caranya nanti untuk antisipasi jangka panjang adalah melakukan penanaman pohon khusus pakan kera,” katanya.
Parjanti berharap permasalahan ini bisa segera diselesaikan. Namun untuk sementara Parjanti mengimbau kepada petani agar tetap sabar. “Lakukan pencegahan seperti kemarin kaya memasang jaring dan gertakan senapan, tapi ingat jangan sampai membunuh kera,” katanya.
Selain itu Parjanti meminta kepada masyarakat untuk perlu sadar dan paham jika kera juga bagian pembentuk keseimbangan rantai makanan di alam. Sehingga perlu adanya rasa menjaga dan toleransi sesama mahluk hidup.
Salah seorang warga Dusun Batur, Mugimin mengatakan berbagai tanaman mulai kacang tanah, jagung bahkan hingga padi mulai rusak dan tidak bisa dipanen karena banyak yang rusak. “Memang bukan kali ini saja serangan monyet, beberapa kali terjadi, namun ini lebih cepat dari biasanya.
Mungkin karena persediaan makannya sudah habis. Sepertinya dari daerah Gunung Api Purba Nglanggeran,” kata Mugimin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY menilai kebijakan kenaikan harga tiket pesawat akan menghambat pertumbuhan wisatawan
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 14 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta, tersedia keberangkatan pagi sampai malam hari.
Siswa kelas II SD meninggal dunia usai tertimpa patung di Museum Ronggowarsita Semarang saat mengikuti wisata rombongan sekolah.
PP Tunas memungkinkan perubahan status risiko TikTok, Roblox, dan YouTube jika lolos evaluasi perlindungan anak digital.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menegaskan akan menindak tegas pengusaha tambang yang merusak lingkungan dan melanggar aturan konservasi.
Kemlu RI mengonfirmasi tujuh WNI tewas akibat kapal tenggelam di Pulau Pangkor, Malaysia. Tujuh korban lainnya masih dicari.