Ikut Perhitungan Makkah, Ratusan Warga Kulonprogo Salat Iduladha Selasa Pagi

Uli Febriarni
Uli Febriarni Selasa, 21 Agustus 2018 12:17 WIB
Ikut Perhitungan Makkah, Ratusan Warga Kulonprogo Salat Iduladha Selasa Pagi

Ratusan umat muslim mulai melaksanakan salat Iduladha, di Lapangan Triharjo, Wates, Selasa (21/8/2018). /Harian Jogja- Uli Febriarni

Harianjogja.com, KULONPROGO-Ratusan umat muslim melangsungkan salat Iduladha 2018 di Lapangan Triharjo, Dusun Cokrodipan, Desa Triharjo, Selasa (21/8/2018). Salat tersebut diselenggarakan oleh Ikatan Pengajian Triharjo.

Salah seorang tokoh agama setempat, Nuri Sasono menjelaskan, sebagian besar jamaah salat tersebut merupakan jamaah Masjid Baitullah Jala Jalalu atau yang dikenal dengan Masjid Jalatundo, Dusun Cokrodipan. Selain itu terdapat sejumlah warga yang berasal dari sejumlah kecamatan lain di Kulonprogo.

Nuri menjelaskan, jamaah pada pagi hari itu melaksanakan salat Iduladha, karena mereka berkeyakinan bahwa pada hari ini telah memasuki jadwal salat Iduladha. Mengingat, pada Senin (20/8/2018) telah dilaksanakan wukuf di Arafah. Sehingga, berdasarkan perhitungan yang diyakini, pada Selasa ditetapkan untuk harus melaksanakan salat Iduladha.

"Tidak masalah bagi kami bila ada perbedaan di antara umat muslim lainnya perihal pelaksanaan salat Iduladha. Karena kami melakukan ibadah berdasarkan keyakinan kami," kata lelaki yang juga imam Masjid Baitullah Jala Jalalu itu, usai salat.

Menurut dia, persoalan adanya perbedaan jadwal salat Iduladha disebabkan adanya perbedaan pemahaman perihal yang berhak mengumumkan perayaan Iduladha. Dalam pandangannya, dari sejumlah sumber disebutkan, yang berhak untuk mengumumkan adalah penguasa di Makkah. Bukan negara lain, organisasi atau dewan dakwah lainnya. Jamaah yang hadir pada pagi ini memilih untuk mengikuti apa yang diterapkan di Makkah tersebut. Apalagi diketahui, perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi hanyalah empat jam. Sedangkan ada sejumlah pihak yang memiliki pemahaman berbeda.

Selain melaksanakan salat, jamaah juga akan menyembelih hewan kurban pada hari ini. Mereka mendasarkan pada keutamaan menyembelih hewan kurban pada hari pertama Iduladha.

Seorang jamaah, Andri Susanti mengaku baru pertama kali ini pelaksanaan salat Iduladha yang berbeda dengan sebagian umat muslim lainnya di sekitarnya. Namun ia tak mempermasalahkan hal tersebut dan mengajak semua pihak untuk menjadikan perbedaan sebagai cara untuk saling menguatkan di antara umat muslim.

Dalam salat yang digelar tepat pukul 06.30 WIB itu, seorang pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, Kecamatan Galur, Solikhul Hadi bertindak sebagai imam dan khatib. Dalam ceramahnya, ia mengajak kepada seluruh jamaah untuk kembali menelaah ibadah yang selama ini dilakukan.

"Apakah kita, beribadah hanya sekadar untuk menggugurkan kewajiban atau kita mendapat kenikmatan saat melakukannya," ujarnya.

Di kesempatan itu, ia juga mengambil sejarah nabi Ibrahim dan Ismail yang menjadi sejarah awal mula hadirnya hari raya Iduladha. Hendaknya, keikhlasan dalam beribadah secara sempurna seperti yang selalu diupayakan oleh nabi, bisa menginspirasi umat dalam beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Kita juga harus berlatih untuk menjadi ahli bersyukur. Sudah banyak nikmat yang kita dapatkan dari Allah," ucapnya.

Pelaksanaan salat Iduladha tersebut mendapat pengamanan dari sejumlah aparat kepolisian dan berlangsung lancar, khidmat sejak awal hingga selesai.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online