Jelang Iduladha 2026, Kulonprogo Perketat Pengawasan Hewan Kurban
Jelang Iduladha 2026, Dispertapang Kulonprogo perketat pengawasan hewan kurban. PMK nol kasus, namun ancaman penyakit lain tetap diwaspadai.
Pekerja menata tabung Liquefied Petroleum Gas (LPG) di salah satu agen LPG di Jakarta, belum lama ini. Bisnis/Suselo Jati
Harianjogja.com, KULONPROGO—Harga gas LPG non-subsidi di Kabupaten Kulonprogo mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah pangkalan melaporkan harga jual elpiji tabung 12 kilogram naik sekitar Rp10 ribu dibandingkan harga sebelumnya, meski pasokan dan ketersediaan stok masih terpantau aman.
Di salah satu pangkalan di Kapanewon Sentolo, harga LPG 12 kilogram kini mencapai sekitar Rp240 ribu per tabung. Sebelumnya, harga komoditas tersebut masih berada di kisaran Rp230 ribu. Kenaikan ini disebut baru terjadi sejak pertengahan April 2026.
Pengelola pangkalan, Eko Priyono, menyebut perubahan harga tersebut cukup mengejutkan sebagian konsumen yang datang membeli. Tidak sedikit pelanggan yang mempertanyakan alasan kenaikan harga di tingkat pangkalan, terutama karena terjadi dalam waktu relatif singkat.
“Belum lama naiknya, pertengahan April baru naik. Ada yang kaget dan ada yang mengeluh,” ujar Eko, Selasa (19/5/2026).
Ia menambahkan, sebagian konsumen bahkan mengaitkan kenaikan harga LPG dengan faktor eksternal seperti kenaikan harga bahan lain dan kondisi ekonomi global. Meski demikian, Eko menilai dampak perubahan nilai tukar dan faktor global turut memengaruhi harga di tingkat distribusi.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pasokan LPG non-subsidi sejauh ini masih dalam kondisi aman. Aktivitas penjualan juga masih berjalan, meski diakui ada sedikit penurunan minat pembelian dari sebagian konsumen akibat kenaikan harga.
Dalam kondisi normal, pangkalan tersebut mampu menjual sekitar 20 tabung LPG 12 kilogram setiap periode tertentu. Akan tetapi, setelah harga naik, jumlah pembelian cenderung lebih stabil dan tidak setinggi sebelumnya.
“Harapannya harga bisa stabil, supaya penjual dan konsumen sama-sama nyaman,” katanya.
Kondisi serupa juga terjadi di Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates. Sejumlah pelaku usaha, termasuk pemilik rumah makan, mulai merasakan dampak kenaikan harga LPG non-subsidi terhadap biaya operasional mereka.
Pemilik pangkalan di wilayah tersebut, Yanuardani, menyebut kenaikan harga paling terasa bagi pelaku usaha yang sangat bergantung pada penggunaan LPG dalam jumlah besar. Beban biaya produksi pun ikut meningkat seiring naiknya harga gas.
Ia juga mengungkapkan adanya penurunan volume penjualan sejak harga LPG naik. Jika sebelumnya penjualan bisa mencapai sekitar 30 tabung per bulan, kini jumlah tersebut turun menjadi belasan tabung saja.
“Sejak naik, penjualan menurun. Sekarang paling sekitar 10 sampai belasan tabung per bulan,” ujarnya.
Selain menyesuaikan harga, sejumlah pangkalan juga memilih tidak menambah stok dalam jumlah besar untuk menghindari risiko penumpukan barang di tengah menurunnya permintaan.
Meski demikian, pelaku usaha berharap kondisi harga dapat kembali stabil agar distribusi LPG non-subsidi tetap berjalan normal dan tidak terlalu membebani konsumen maupun pedagang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jelang Iduladha 2026, Dispertapang Kulonprogo perketat pengawasan hewan kurban. PMK nol kasus, namun ancaman penyakit lain tetap diwaspadai.
Prediksi Bournemouth vs Man City Liga Inggris 2026, laga penentu gelar. The Citizens wajib menang demi menjaga peluang juara.
SPMB Jateng 2026 resmi diluncurkan. Daya tampung SMA/SMK negeri hanya 40 persen, gubernur tegaskan tak ada titip-menitip.
UGM dan KAGAMA berupaya manfaatkan rumah Prof Sardjito untuk kegiatan akademik di tengah isu penjualan aset bersejarah.
Kasus penembakan pemuda di Candisari Semarang terungkap. Polisi beberkan kronologi, motif pelaku, hingga peluang restorative justice.
Polda Jabar bongkar penipuan titik dapur MBG, 13 korban rugi Rp1,9 miliar. Pelaku jual akses palsu program pemerintah.