Harga LPG Non-Subsidi di Kulonprogo Naik Rp10 Ribu

Khairul Ma'arif
Khairul Ma'arif Selasa, 19 Mei 2026 18:17 WIB
Harga LPG Non-Subsidi di Kulonprogo Naik Rp10 Ribu

Pekerja menata tabung Liquefied Petroleum Gas (LPG) di salah satu agen LPG di Jakarta, belum lama ini. Bisnis/Suselo Jati

Harianjogja.com, KULONPROGO—Harga gas LPG non-subsidi di Kabupaten Kulonprogo mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah pangkalan melaporkan harga jual elpiji tabung 12 kilogram naik sekitar Rp10 ribu dibandingkan harga sebelumnya, meski pasokan dan ketersediaan stok masih terpantau aman.

Di salah satu pangkalan di Kapanewon Sentolo, harga LPG 12 kilogram kini mencapai sekitar Rp240 ribu per tabung. Sebelumnya, harga komoditas tersebut masih berada di kisaran Rp230 ribu. Kenaikan ini disebut baru terjadi sejak pertengahan April 2026.

Pengelola pangkalan, Eko Priyono, menyebut perubahan harga tersebut cukup mengejutkan sebagian konsumen yang datang membeli. Tidak sedikit pelanggan yang mempertanyakan alasan kenaikan harga di tingkat pangkalan, terutama karena terjadi dalam waktu relatif singkat.

“Belum lama naiknya, pertengahan April baru naik. Ada yang kaget dan ada yang mengeluh,” ujar Eko, Selasa (19/5/2026).

Ia menambahkan, sebagian konsumen bahkan mengaitkan kenaikan harga LPG dengan faktor eksternal seperti kenaikan harga bahan lain dan kondisi ekonomi global. Meski demikian, Eko menilai dampak perubahan nilai tukar dan faktor global turut memengaruhi harga di tingkat distribusi.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa pasokan LPG non-subsidi sejauh ini masih dalam kondisi aman. Aktivitas penjualan juga masih berjalan, meski diakui ada sedikit penurunan minat pembelian dari sebagian konsumen akibat kenaikan harga.

Dalam kondisi normal, pangkalan tersebut mampu menjual sekitar 20 tabung LPG 12 kilogram setiap periode tertentu. Akan tetapi, setelah harga naik, jumlah pembelian cenderung lebih stabil dan tidak setinggi sebelumnya.

“Harapannya harga bisa stabil, supaya penjual dan konsumen sama-sama nyaman,” katanya.

Kondisi serupa juga terjadi di Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates. Sejumlah pelaku usaha, termasuk pemilik rumah makan, mulai merasakan dampak kenaikan harga LPG non-subsidi terhadap biaya operasional mereka.

Pemilik pangkalan di wilayah tersebut, Yanuardani, menyebut kenaikan harga paling terasa bagi pelaku usaha yang sangat bergantung pada penggunaan LPG dalam jumlah besar. Beban biaya produksi pun ikut meningkat seiring naiknya harga gas.

Ia juga mengungkapkan adanya penurunan volume penjualan sejak harga LPG naik. Jika sebelumnya penjualan bisa mencapai sekitar 30 tabung per bulan, kini jumlah tersebut turun menjadi belasan tabung saja.

“Sejak naik, penjualan menurun. Sekarang paling sekitar 10 sampai belasan tabung per bulan,” ujarnya.

Selain menyesuaikan harga, sejumlah pangkalan juga memilih tidak menambah stok dalam jumlah besar untuk menghindari risiko penumpukan barang di tengah menurunnya permintaan.

Meski demikian, pelaku usaha berharap kondisi harga dapat kembali stabil agar distribusi LPG non-subsidi tetap berjalan normal dan tidak terlalu membebani konsumen maupun pedagang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online