Lebih dari 100.000 Orang di DIY Telah Disuntik Vaksin
Vaksinasi Covid-19 tahap kedua untuk kalangan lanjut usia dan pelayan publik di DIY masih berjalan. Hingga Jumat (19/3/2021), total penerima vaksin telah mencapai 97.583 jiwa.
Sajian produk coklat di Cafe Coklat Journey di Wonosari, Gunungkidul, Sabtu (18/8/2018). /Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Tradisi mengkonsumsi cokelat oleh masyarakat Gunungkidul tergolong rendah. Itulah yang menjadi keresahan Asmono Wikan sehingga berinisiatif mendirikan Cafe Cokelat Journey Gunungkidul.
Asmono yang sekaligus menjadi owner Cafe Cokelat Journey Gunungkidul mengungkapkan masyarakat Gunungkidul menurutnya lebih menyukai minuman lain seperti kopi dan teh sebagai pendamping makanan. Kendati demikian hal itu bukan menjadi masalah dan justru membuat dia tertantang untuk mengenalkan minuman coklat.
"Ini justru menjadi tantangan saya agar budaya mengkonsumsi coklat bisa masuk ke Gunungkidul," ucap Asmono kepada Harianjogja.com, Sabtu (18/8/2018) lalu.
Asmono mengungkapkan dirinya telah bekerjasama dengan petani Coklat di Patuk Gunungkidul. Petani coklat Patuk adalah penghasil cokelat premium. Namun kualitas coklat terbaik justru sebagian besar diekspor ke mancanegara khususnya di negara-negara Eropa.
Sementara yang dikonsumsi di dalam negeri adalah cokelat kualitas nomor tiga. Hal itu terjadi karena harga cokelat yang mahal. Satu kilogram biji coklat kualitas terbaik dihargai Rp60.000. Sementara jika sudah dalam bentuk bubuk melambung hingga Rp200.000 per kilogram. Imbasnya masyarakat lokal takut untuk membeli.
"Itulah kenapa Cokelat Journey Gunungkidul kami hadirkan agar warga Gunungkidul dan para wisatawan mengenal manfaat mengonsumsi cokelat, dengan harga yang sangat terjangkau," ungkapnya.
Berlokasi di Jalan Gereja No 1 Wonosari, Gunungkidul, Cokelat Journey diklaim sebagai cafe pertama di Gunungkidul yang menyajikan cokelat sebagai menu utama. Adapun menunya mulai choco classic, choco milk, dan choco coffee. Harganya tergolong terjangkau yakni Rp6.000-Rp7.000 untuk gelas kecil Rp8.000-Rp10.000 gelas medium.
"Dan kualitas tertinggi yakni dark coklat kami sajikan dengan harga Rp10.000-Rp12.000," bebernya.
Cafe yang resmi dibuka pada pertengahan Agustus 2018 ini dikemas dengan konsep 3 in 1, yaitu cafe, wrokplace dan distro.
Asmono menjelaskan konsep workplace bertujuan membuat cafe ini bisa menjadi rujukan masyarakat untuk singgah dan menjadikannya tempat kerja kedua. Sementara maksud distro yaitu cafe ini selain menyajikan hidangan minuman coklat siap saji, juga menyediakan aneka camilan coklat untuk menjadi oleh-oleh para pengunjung.
Cafe ini buka mulai pukul 11.00 - 22.00 WIB tiap hari, kecuali Minggu dan hari besar nasional. Di cafe ini pengunjung juga akan dimanjakan dengan suasana tempat yang cozy dengan fasilitas sinyal wifi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Vaksinasi Covid-19 tahap kedua untuk kalangan lanjut usia dan pelayan publik di DIY masih berjalan. Hingga Jumat (19/3/2021), total penerima vaksin telah mencapai 97.583 jiwa.
Trump minta China dan Taiwan menahan diri di tengah ketegangan. AS belum pastikan kirim senjata ke Taipei dan soroti chip Taiwan.
Okupansi hotel Jogja naik hingga 70% saat long weekend. PHRI DIY ungkap tren booking mendadak dan imbau wisatawan waspada penipuan.
Serabi 2026 bantu lebih dari 1.800 UMKM perempuan memahami bisnis digital, strategi harga, dan pengembangan usaha berbasis data.
Prabowo minta TNI-Polri bersih dari praktik ilegal, tegaskan larangan backing judi, narkoba, dan penyelundupan.
Perdagangan hewan kurban Bantul naik jelang Iduladha 2026, omzet pedagang diprediksi tumbuh hingga 40 persen.