Serangan Monyet Bikin Resah Petani Tanjungsari Gunungkidul
Warga Padukuhan Kelor, Kemadang, Tanjungsari mengeluhkan serangan monyet ekor panjang yang merusak area pertanian yang dimiliki karena bisa gagal panen.
Ilustrasi./Reuters-Mike Hutchings
Harianjogja.com, BANTUL--Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul tidak akan meminta tambahan anggaran untuk dropping air dalam pembahasan APBD Perubahan 2018. Dasar untuk tidak meminta tambahan karena anggaran sebesar Rp75 juta dari APBD murni dirasa masih mencukupi untuk penyaluran hingga musim penghujan tiba.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto mengatakan pihaknya terus menyalurkan air bersih ke warga yang menglamai krisis air bersih. “Bantuan terus kami salurkan kepada warga yang membutuhkan pasokan air bersih,” kata Dwi kepada wartawan, Selasa (4/9/2018).
Menurut dia, meski sudah banyak air yang disalurkan ke masyarakat, tetapi BPBD tidak akan mengajukan tambahan anggaran di APBD Perubahan 2018. Dwi berpendapat alokasi anggaran sekitar Rp75 juta dirasa masih mencukupi untuk memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat.
“Masih cukup sehingga kami tidak mengajukan tambahan anggaran saat pembahasan APBD Perubahan dilakukan,” ucap dia.
Dijelaskan Dwi, salah satu pertimbangan untuk tidak mengajukan tambahan anggaran mengacu pada prakiraan cuaca oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Hasil koordinasi dengan lembaga ini dipaparkan jika wilayah Bantul memasuki musim hujan pada Oktober mendatang. “Jadi kalau benar Oktober sudah memasuki musim hujan maka anggaran yang dimiliki masih mencukupi,” katanya.
Lebih jauh dikatakan Dwi, untuk penyaluran air bersih akan terus dilakukan selama ada permintaan dari masyarakat. “Warga yang minta pasti akan kami berikan bantuan. kami juga meminta kepada swasta yang ingin membantu berkoordinasi dengan BPBD sehingga bantuan dapat efektif dan tepat sasaran,” kata dia.
Manajer Pusat Pengendalian Operasional (Pusdalops) BPBD Bantul, Aka Luk Luk mengatakan hingga sekarang sudah ada sekitar 80 tangki air bersih yang disalurkan ke masyarakat. Desa yang menjadi tempat penyaluran di antaranya, Selopamioro, Imogiri; Desa Bawuran, Pleret; Gilangharjo, Pandak; Seloharjo, Pundong; Sitimulyo dan Srimulyo, Piyungan; Guwosari dan Triwidadi, Pajangan. “Kami juga menyalurkan air bersih ke wilayah Dlingo seperti di Desa Munthuk dan Terong,” katanya.
Ditambahkan Aka, untuk penyaluran air bersih akan terus dilakukan hingga kebutuhan masyarakat terpenuhi. “Selama ada permintaan, kami akan terus memberikan bantuan,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Padukuhan Kelor, Kemadang, Tanjungsari mengeluhkan serangan monyet ekor panjang yang merusak area pertanian yang dimiliki karena bisa gagal panen.
Sultan Brunei Hassanal Bolkiah mencabut gelar menantunya, Raabi'atul Adawiyyah. Keputusan berlaku segera tanpa pengumuman perceraian.
Gelombang tinggi di Kulonprogo merobohkan tiga warung di Pantai Trisik dan membuat air laut masuk ke dua rumah warga.
Gempa M 7,4 mengguncang Kolombia dan menewaskan 111 orang. Presiden Abelardo de la Espriella memimpin langsung penanganan bencana.
Stafsus Menhan Lenis Kogoya meminta TPNPB menghentikan kekerasan terhadap warga sipil Papua serta tidak mengganggu peringatan HUT ke-81 RI.
film berdurasi 1 jam 38 menit tersebut memberikan gambaran visual mengenai dampak penyalahgunaan narkoba sekaligus upaya pencegahannya.