Kadin dan UGM Jalin Kerja Sama
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menjalin sinergi dengan Perguruan Tinggi.
Kegiatan dropping air oleh BPBD Gunungkidul di Dusun Kayuareng, Pucanganom, Rongkop, Gunungkidul, Sabtu (7/7/2018)./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Minimnya anggaran membuat Pemdes Mertelu tidak bisa berbuat banyak menangani kekeringan di wilayahnya. Terlebih ketika warga desa itu harus merogoh kocek yang lebih dalam untuk mendapatkan satu tangki air.
Pelaksana Tugas Kepala Desa Mertelu, Heri Cahyana membenarkan kekeringan sudah terjadi sekitar lima bulan terakhir ini. Harga air tangki di beberapa titik juga terlampau mahal. “Benar ada yang sampai Rp350.000 per tangki, terutama yang kondisi geografisnya sulit dijangkau, di sini kan rata-rata pegunungan. Jadi mobil tangki kesulitan. Hampir 80 persen masyarakat di sini yang kurang air,” kata Heri, Rabu (12/9/2018).
Saat ini pihaknya juga tidak mampu memberi subsidi untuk pembelian air tangki lantaran minimnya anggaran yang dimiliki oleh desa. Hanya saja Pemdes setiap tahunnya menganggarkan sumur untuk pemenuhan air.
Setidaknya hingga saat ini sudah ada 10 titik dari program pembangunan sumur yang dilakukan di Desa Mertelu. Setiap tahunnya diupayakan bisa dibangun dua titik sumur, yang mampu membantu memenuhi kebutuhan air. “Memang kalau kemarau kering juga sumur, namun setidaknya kalau musim penghujan datangkan dapat membantu warga, selain mengandalkan dari tadah hujan,” ucap dia.
Salah satu warga, Yoto membenarkan di tempatnya kesulitan air, untuk memenuhi kebutuhan air juga cukup mahal jika membeli air tangki. “Iya mahal, kalau yang ada di daerah [dataran] tinggi sulit dijangkau bisa sampai sekitar Rp300.000 per tangki. Namun untuk yang masih di bawah biasanya sekitar Rp200.000,” ucap dia.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan pihaknya juga tidak memiliki anggaran untuk subsidi pembelian tangki air. “Kalau dari kami ya langsung bantuan dropping itu, jika pihak desa mengajukan. Di kecamatan juga menganggarkan untuk itu. Namun yang menjadi kendala akan kondisi geografisnya itu,” kata Edy.
Dia mengungkapkan untuk wilayah utara Gunungkidul sendiri ada beberapa Kecamatan yang mengalami kekeringan seperti Gedangsari, Nglipar dan Ngawen. Untuk mengatasi permasalahan yang terus terjadi setiap tahun ini, Edy mengatakan akan diupayakan membangun sumur bor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menjalin sinergi dengan Perguruan Tinggi.
Harga sapi impor naik, peternak lokal diuntungkan. Namun pakar UGM memperingatkan ancaman serius bagi populasi sapi nasional.
Huawei MatePad Pro Max siap meluncur dengan RAM hingga 20GB, layar OLED 144Hz, dan baterai 10.400 mAh.
KPK umumkan harta kekayaan Presiden Prabowo Subianto 2025 mencapai Rp2,06 triliun. Ini rincian lengkap asetnya.
Simak cara cetak STNK setelah bayar pajak online lewat SIGNAL. Praktis, tanpa antre, dan resmi berlaku 2026.
Nadiem Makarim tampil dengan gelang detektor saat sidang kasus korupsi Chromebook Rp2,18 triliun. Kini berstatus tahanan rumah.