Kasus DBD Terbanyak di Gunungkidul Ada di Ponjong, Capai 64 Kasus
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Ilustrasi. /Solopos-Agoes Rudianto
Harianjogja.com, BANTUL -- Warga Desa Temuwuh, Kecamatan Dlingo mendeklarasikan tolak politik uang selama penyelenggaraan pilihan lurah desa (pilurdes) yang dilaksanakan serentak pada Minggu (14/10/2018) mendatang. Penolakan ini diwujudkan dalam pemasangan spanduk di sejumlah titik di jalan raya.
Ketua RT 01, Dusun Temuwuh, Temuyuh, yang juga sebagai inisiator pemasangan spanduk tolak politik uang, Mujiyono mengatakan, sebelum memasang spanduk, pihaknya menggelar pertemuan dengan warga. Hasil dari pertemuan disepakati untuk menolak politik uang dalam Pilurdes 2018.
“Kami sudah sepakat dan ditindaklanjuti dengan memasang spandung tolak politik uang,” katanya kepada wartawan, Rabu (3/10/2018).
Dia menjelaskan latar belakang untuk membuat gerakan antipolitik uang tidak lepas dari isu yang beredar di masyarakat tentang transaksi uang dalam pilurdes. Selain itu, sambung Muji, sudah menjadi rahasia umum di Temuwuh jika setiap proses pemilihan selalu dibumbui dengan jual beli suara.
“Tidak hanya pilurdes, tetapi pemilihan kepala dusun juga sama, yakni syarat dengan permainan politik uang,” kata dia.
Dia berharap dengan pemasangan spanduk bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk tidak terlibat dalam politik uang.
“Harapannya warga bisa komitmen sehingga pelaksanaan pilurdes tahun ini bisa berlangsung dengan jujur bersih tanpa ada transaksi jual beli suara,” ucap dia.
Lebih jauh dikatakan Muji, pemasangan spanduk tolak politik uang tidak hanya di Dusun Temuwuh, tetapi juga di dusun lain. Beberapa dusun itu di antaranya Kapingan, Jambewangi dan Salam.
“Ada kesamaan gerakan ini membuktikan bahwa rakyat di Temuwuh ingin pelaksanaan pilurdes yang jujur dan adil,” kata dia.
Salah seorang warga di Temuwuh, Senadi mengatakan pemasangan spanduk tolak politik uang dilakukan warga di RT 01, Dusun Temuwuh sejak dua hari lalu. Ia tidak tahu persis maksud dari pemasangan spanduk ini, tetapi kalau dilihat dari isi tulisan merupakan imbauan untuk tidak bermain politik uang di gelaran pemilihan lurah.
“Mudah-mudahan bukan sebatas spanduk, tetapi pelaksanaan juga bisa lepas dari jual beli suara,” kata dia.
Menurut dia, di dalam pilurdes yang akan diselenggarakan pada Minggu (14/10/2018) mendatang ada tiga calon. Senadi berharap pada saat pemilihan hingga penetapan dapat berjalan dengan aman dan lancar. “Mudah-mudahan bisa lancar dan tidak ada hambatan dalam pelaksanaan,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Gerai KDMP Tuksono di Sentolo, Kulonprogo, dinilai strategis meski tak berada di tengah permukiman. Operasional menunggu verifikasi dan validasi.
Tujuh kambing mati mendadak di Semanu, Gunungkidul. Lima warga mengalami luka kulit dan menjadi suspek antraks, hasil lab masih ditunggu.
Masinis KA Argo Bromo Anggrek ditetapkan sebagai tersangka kecelakaan di Bekasi. Ancaman hukuman maksimal 5 hingga 12 tahun penjara.
Pilur Gunungkidul di 31 kalurahan berlangsung aman. Lurah terpilih ditargetkan dilantik 26 November 2026 setelah tahapan administrasi selesai.
Paus Leo XIV menyerukan Eropa memperkuat peran menjaga perdamaian global dan mendorong dialog untuk menghentikan perang Rusia-Ukraina.