Kuota Transmigrasi Belum Jelas, Gunungkidul Masih Menunggu Pusat
Pemkab Gunungkidul masih menunggu kepastian kuota transmigrasi 2026 dari pemerintah pusat untuk 15 keluarga calon transmigran.
Sejumlah warga Legundi, Desa Planjan, Kecamatan Saptosari, mengambil air dari bocoran pipa PDAM, Senin (20/8). /Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Kekeringan di wilayah Gunungkidul terus meluas dan menyasar 15 kecamatan. Hal ini terlihat data dari BPBD, dari 18 kecamatan, yang benar-benar bebas dari masalah krisis air hanya di Wonosari, Playen dan Karangmojo.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, memasuki akhir tahun jumlah kekeringan di Gunungkidul makin meluas. Kondisi ini terjadi karena kondisi cuaca yang menunjukan akan datang musim hujan. Hal ini ini pun berakibat pada jumlah kecamatan yang mengalami kekeringan.
“Dari 18 kecamatan yang benar-benar tidak terjadi kekeringan ada di tiga kecamatan, yakni WOnosari, Playen dan Karangmojo. Selebihnya di 15 kecamatan ada masalah dengan pasokan kebutuhan air bersih,” kata Edy, Kamis (18/10/2018).
Dijelaskannya, kekeringan yang makin meluas ini memberikan dampak ke 122.104 jiwa mengalami krisis air bersih. Total selama kekeringan terjadi sebanyak 4.930 rit air bersih telah disalurkan ke masyarakat. Jumlah ini merupakan total dari droping yang disalurkan oleh BPBD, kecamatan maupun bantuan dari pihak ketiga.
“Besok [hari ini] kami akan lakukan koordinasi untuk update data kekeringan terkini dan apakah perlu menetapkan status tanggap darurat kekeringan,” ungkap mantan Sekretaris Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah ini.
Kepala Dusun Kalangan, Desa Kalitekuk, kecamatan Semin, Surayah mengatakan, sebagian besar wilayahnya sudah sangat krisis air. Menurutnya, warganya kesulitan memperoleh air bersih karena debit air di spamdus yang dimiliki menurun drastis sejak dua bulan lalu. “Debitnya kecil karena dari 120 Kepala Keluarga, instalasi air yang dimiliki [jaringan spamdus] hanya mencukupi untuk tujuh KK,” katanya.
Dia mengungkapkan kondisi ini membuat warga pasrah dan harus mencari sumber air yang terdekat. “Kalau mampu bisa menyambung saluran spamdus dari dusun lain. Tapi yang tidak mampu harus mencukupi dengan mencari air ke dusun atau desa yang lain,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial, Kecamatan Girisubo, Arif Yahya. Menurut dia, penyaluran air bersih yang dilakukan pemerintah belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Untuk pemenuhan tersebut, selain masyarakat membeli swadaya, juga terus berkoordinasi dengan pihak ketiga agar ikut memberikan bantuan.
“Salah satu kekeringan terparah terjadi di Desa Songbanyu. Harga satu tangki air di sana mencapai Rp200.000,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul masih menunggu kepastian kuota transmigrasi 2026 dari pemerintah pusat untuk 15 keluarga calon transmigran.
Kiper Palestina Saleem Al-Ashqar meninggal dunia di Gaza. Ia meninggalkan istri yang tengah mengandung anak pertama dan memicu duka dunia sepak bola.
Harga Dexlite dan Pertamina Dex turun mulai Juli 2026. Simak perbandingan harga solar Indonesia dengan Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Kejagung, kasus MBG, Makan Bergizi Gratis, Badan Gizi Nasional, BGN, LMI tersangka, korupsi MBG, Kejaksaan Agung, food tray, ompreng, SPPG, Jampidsus, tata kelo
Klaim The Simpsons memprediksi final Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Portugal ternyata hoaks yang kembali muncul di media sosial.
PT BPR Bank Bantul (Perseroda) menggelar Turnamen Tenis Meja antar Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pejabat yang tergabung dalam Forum Koordinasi Pimpinan Daera