Puluhan Mahasiswa UNJ Kunjungi Harian Jogja
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Anggota Komisi B DPRD DIY, Aslam Ridlo (tengah) saat meninjau lokasi Gua Cerme, Jumat (14/12/2018)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Kunjungan wisatawan ke objek wisata Gua Cerme di Dusun Srunggo, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri terus anjlok dari tahun ke tahun. Akses jalan yang sulit dan minimnya berbagai fasilitas penunjang pariwisata membuat objek wisata tersebut semakin ditinggalkan pelancong.
Ketua Pengelola Gua Cerme, Suwarlan mengatakan penurunan pengunjung Goa Cerme sudah terjadi sejak tiga tahun terakhir seiring kian banyaknya objek wisata baru bermunculan di Bantul dan Gunungkidul. Dia tidak hafal angka persis jumlah penurunan kunjungan, namun berdasarkan karcis masuk pada 2017 lalu, jumlah pengunjung masih sekitar 11.000 orang.
Namun menjelang akhir tahun ini, kata dia, jumlah pengunjung bahkan belum mencapai 7.000 orang. "Terasa sekali kemundurannya dari tahun ke tahun," kata Uwarlan seusai Sosialisasi Sadar Wisata yang digelar Dinas Pariwisata (Dispar) DIY di Goa Cerme, Jumat (14/12/2018).
Gua Cerme diakui dia menawarkan keindahan alam bawah tanah melalui ukiran alami batu stalakmit dan stalaktit serta sungai yang mengalir di dalamnya. Gua dengan kedalaman sekitar 1,2 kilometer itu menyambungkan dua wilayah kabupaten yakni Bantul di bagian mulut gua dan Gunungkidul di bagian dalam hingga pintu keluar gua.
Lantaran berada di antara dua kabupaten, maka retribusi masuk Gua Cerme pun memiliki dua tarif yang berbeda. Pengunjung harus membayar retribusi masuk kompleks mulut gua sebesar Rp6.000 dari Pemkab Bantul. Sampai mulut gua, pengunjung akan ditarik kembali retribusi sebesar Rp3.000 dari Gunungkidul. “Tarif dobel ini juga turut memengaruhi turunnya jumlah pengunjung,” ucap Suwarlan.
Tak cukup di situ, Suwarlan menyebut fasilitas pendukung wisata juga kurang memadai sehingga jumlah pengunjung tak kunjung meningkat. Dia mencontohkan akses jalan yang curam dan membahayakan untuk kendaraan besar, papan penunjuk arah minim, penerangan dan lahan parkir sekitar lokasi goa juga minim.
Penerangan yang ada saat ini pun diakui dia hanya disediakan seadanya oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat dengan cara menyambungkannya dengan listrik milik warga. “Kami sebenarnya sudah menyampaikan persoalan ini ke Pemkab [Bantul],” kata dia
Anggota Komisi B DPRD DIY, Aslam Ridlo yang hadir dalam sosialisasi tersebut mengaku adanya penarikan retribusi yang dobel seharusnya juga jadi catatan untuk didiskusikan lebih lanjut di DPRD DIY. “Pemda DIY berwenang mengatur objek wisata yang melibatkan antarkabupaten,” kata dia.
Sekretaris Dispar DIY, Rose Sutikno mengatakan dalam mengelola objek wisata yang melibatkan dua kabupaten sebenarnya ada dua cara, yakni diambil alih Pemda DIY atau bisa diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat. "Yang penting sekarang kami kuatkan dulu daya tariknya dan tingkatkan pengunjungnya," kata Sutikno.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Polda Jatim mengungkap 178 kasus kejahatan jalanan selama Juli 2026 dan mengamankan 206 tersangka di seluruh wilayah Jawa Timur.
Pemkot Jogja memastikan pembayaran gaji ASN dan PPPK hingga akhir 2026 aman dengan dukungan DAU dan PAD yang melampaui target.
KPK melimpahkan berkas dakwaan Yaqut Cholil Qoumas ke PN Jakarta Pusat. Sidang kasus dugaan korupsi kuota haji kini menunggu jadwal.
Pemerintah menggelar HUT ke-81 RI di Jakarta dan IKN serta mengundang seluruh tokoh bangsa menghadiri upacara 17 Agustus 2026.
Turkiye menargetkan jalur alternatif Selat Hormuz melalui Irak selesai dalam tiga tahun untuk memperkuat perdagangan menuju Eropa.