Ratusan Sekolah di Gunungkidul Disetujui Direvitalisasi
Dinas Pendidikan Gunungkidul mencatat ada 131 sekolah yang mendapatkan bantuan perbaikan dari Pemerintah Pusat. Diharapkan dapat meingkatkan sarpras di sekolah.
Ilustrasi pajak/Bisnis.com
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Wakil Ketua Komisi B DPRD Gunungkidul Edi Susilo menilai penarikan pajak restoran dan rumah makan belum maksimal. Hal ini pun berdampak terhadap capaian pendapatan asli daerah dari sektor pajak hotel dan restoran.
“Memang belum optimal dan harus dilakukan perbaikan agar hasilnya bisa maksimal. Apalagi dari sisi potensi pertumbuhan restoran dan rumah makan di Gunungkidul sangat pesat,” kata Edi kepada Harianjogja.com, Selasa (25/12/2018).
Menurut dia, indikasi tidak optimalnya penarikan terlihat dari pajak yang disetorkan. Meski tidak menyembut nama rumah makan, Edi mengaku mendapatkan informasi ada pengusaha dengan omzet besar hanya membayar pajak kurang dari Rp100.000 per bulan. Padahal, sambung Edi, sesuai dengan peraturan, setiap konsumen dikenakan pajak 10% dari harga yang dibeli.
“Kalau hanya Rp100.000, jelas tidak masuk akal. Kalau seperti ini, siapa yang salah? pemkab atau pengusahanya yang nakal,” tuturnya.
Menurut dia, potensi kebocoran pendapatan ini harus ditekan. Salah satu solusi yang dapat diterapkan dengan melakukan penarikan pajak secara online. Edi mengakui, pembayaran berbasis online sudah pernah direkomendasikan oleh anggota Komisi B DPRD Gunungkidul. Hanya saja, usulan ini belum ditindaklanjuti hingga sekarang.
“Belum ada realisasinya,” katanya.
Edi menambahkan, dengan sistem online, pendapatan dari pajak restoran dan rumah makan dapat dimaksimalkan. “Potensinya sangat besar dan ini bisa menjadi sumber alternatif PAD, selain dari retribusi wisata. Apalagi perkembangan rumah makan dan restoran juga sejalan dengan pesatnya pariwisata di Gunungkidul,” kata mantan Kepala Desa Kedungpoh ini.
Di awal tahun ini, Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Gunungkidul telah mewacanakan memberikan mesin tapping box kepada pengusaha rumah makan. Namun demikian, mesin berjumlah 12 unit kembali ditarik karena adanya keberatan dari pengusaha yang merasa pemberian dilakukan secara tebang pilih.
“Memang kami tarik kembali karena beberapa pertimbangan, salah satunya masukan dari pengusaha,” kata Sekreataris BKAD Gunungkidul, Putro Sapto Wahyono beberapa waktu lalu.
Menurut dia, meski telah menarik mesin tapping box yag berfungsi untuk merekam data transaksi sehingga ada kepastian masalah pajak, pemkab akan tetap melaksanakan program ini. “Kita masih lakukan kajian, tapi ke depan pemasangan mesing tapping box di hotel dan rumah makan akan kami jalankan. Ini dilaksankaan sebagai upaya memaksimalkan pajak hotel dan restoran di Gunungkidul,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Pendidikan Gunungkidul mencatat ada 131 sekolah yang mendapatkan bantuan perbaikan dari Pemerintah Pusat. Diharapkan dapat meingkatkan sarpras di sekolah.
Jadwal bola malam ini 26-27 September 2026 menghadirkan Inggris vs Spanyol, Republik Ceko vs Kroasia, perempat final Asian Games, dan Liga 2.
Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026 kembali digelar di SUGBK. Psywar media sosial dan rekam jejak pertemuan kedua tim ikut menjadi sorotan.
Ekspansi OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, dan perusahaan AI lain memperketat pasar kantor Singapura. Harga sewa diprediksi naik 10 persen.
MotoGP 2027 digelar dalam 22 seri. Mandalika menjadi seri ke-20 pada 29-31 Oktober, disusul Adelaide dan Valencia.
Harvest Moon 26 September 2026 bukan pemicu gempa, tsunami, atau letusan gunung api. Daryono menjelaskan kaitannya dengan pasang laut dan rob.