Jadwal SIM Keliling Kulonprogo 11 Juli 2026, Ini Lokasinya
Polres Kulonprogo kembali menghadirkan layanan SIM keliling pada Juli 2026 untuk memudahkan masyarakat memperpanjang Surat Izin Mengemudi (SIM).
Foto terjadinya guguran kubah lava dari Kaliadem, Sabtu (29/12/2018)./Ist- Gitsayanto via Twitter BPPTKG
Harianjogja.com, JOGJA—Wilayah DIY saat ini memasuki puncak musim hujan. Curah hujan yang tinggi perlu diwaspadai, salah satunya terkait degan potensi banjir lahar hujan dari hulu Gunung Merapi.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Biwara Yuswantara mengatakan meski kondisi saat ini masih aman terkendali namun masyarakat perlu terus mewaspadai potensi bencana di sekitarnya. Salah satunya potensi banjir lahar dan material Gunung Merapi.
Pasalnya dalam sepekan terakhir terjadi peningkatan aliran sungai seiring tingginya intensitas hujan saat ini. "Memang ada peningkatan aliran air di Sungai Apu pada 15 Januari dan Sungai Gendol pada 17 Januari. Itu terjadi karena intensitas hujan di puncak," katanya kepada Harian Jogja, Sabtu (19/1/2019).
Meski begitu, Biwara menegaskan hingga saat ini kondisi kubah lava Gunung Merapi masih stabil sehingga belum ada aliran lahar. Aliran keruh yang terlihat di sungai-sungai akibat material yang terbawa dari hulu sungai.
Untuk itu dia meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir dan panik meski tetap harus selalu waspada. "Volume Sungai Gendol sangat besar, sekitar enam juta meter kubik, sehingga dapat menampung aliran dari atas," katanya.
Biwara mengatakan petugas dan sukarelawan BPBD Sleman terus memantau sekitar lereng Merapi. Mereka secara rutin menggelar patroli dan mengingatkan warga di sekitar Kali Gendol untuk waspada meskipun rumah mereka sudah berada di jarak aman dari bibir sungai.
"Waktu ke Desa Argomulyo, saya melihat konsolidasi dan kekompakan semua unsur sangat baik, perangkat desa, BPD Destana, sukarelawan didukung BPBD Sleman. Saya apresiasi kepada mereka," katanya.
Senada, Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto memastikan belum ada ancaman banjir lahar hujan di Kali Gendol karena guguran lava Merapi masih sedikit. Dia juga memastikan jika material sisa erupsi Merapi tahun 2010 tidak mengancam adanya banjir lahar hujan.
"[Akibat penambangan] kondisi Kali Gendol saat ini luas, bisa menampung debit air hujan dan tidak mengancam. Ada early warning system (EWS) yang dipasang untuk memantau perkembangan," katanya.
Sebelumnya, saat mengunjungi lereng Merapi pada Jumat (18/1) lalu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan berharap agar masyarakat tidak perlu takut dengan aktivitas Merapi yang masih status waspada.
"Asalkan masyarakat masih menaati peraturan yang telah ditetapkan oleh BPPTKG, yaitu untuk tidak beraktivitas di dalam radius tiga kilometer dari puncak. Media juga jangan bikin berita yang dapat meresahkan warga maupun masyarakat dari luar Jogja yang ingin berwisata ke Merapi," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polres Kulonprogo kembali menghadirkan layanan SIM keliling pada Juli 2026 untuk memudahkan masyarakat memperpanjang Surat Izin Mengemudi (SIM).
Gempa M7,1 di Jepang diduga berkaitan dengan sesar yang belum retak sejak gempa besar 2016. Ahli ungkap potensi gempa susulan.
KPK menahan anggota DPRD Jatim Moch Mahrus terkait dugaan suap dana hibah pokmas kepada Anwar Sadad.
PSIM Jogja masih mengevaluasi masa depan Nermin Haljeta jelang Super League 2026/2027, sementara Franco Ramos dipastikan bertahan.
BBPOM Yogyakarta mempercepat penerbitan NIE bagi UMKM pangan olahan agar produk lokal Jogja aman, bermutu, dan mampu bersaing.
Wapres Gibran bertemu Hun Many membahas reformasi birokrasi, olahraga, serta penanganan TPPO terkait penipuan daring.