Setahun Tertunda, Pengurus Golkar Gunungkidul Desak Musda Digelar
Pengurus Golkar tingkat kapanewon mendesak Musda Gunungkidul segera digelar setelah tertunda hampir setahun sejak dijadwalkan pada November 2025.
Ilustrasi rabies
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Dinas Pertanian dan Pangan mengklaim wilayah Gunungkidul bebas dari penularan penyakit rabies. Namun demikian, upaya antisipasi terus dilakukan dengan memberikan vaksin terhadap hewan yang berpotensi menularkan penyakit ini seperti anjing, kucing dan kera.
Kepala Seksi Kesehatan dan Kesmavet, Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Retno Widiyastuti mengatakan, populasi hewan yang berpotensi menyebarkan rabies di Gunungkidul cukup banyak. Hal itu dilihat dari hasil pendataan di masyarakat. Hingga saat ini terdata, jumlah populasi anjing yang dipelihara mencapai 2.183 ekor, kucing sebanyak 6.983 ekor dan kera ada 436 ekor.
“Jumlah ini merupakan hewan yang dipelihara oleh masyarakat dan belum termasuk yang hidup di alam liar. Kalau ditambah dengan yang liar, maka jumlah populasi akan semakin besar,” kata Retno, Selasa (5/2).
Dia menjelaskan, jika dilihat dari temuan kasus, maka di wilayah Gunungkidul dan DIY masuk kategori bebas rabies. Meski demikian, adanya populasi hewan-hewan ini bisa menjadi pemicu munculnya penularan penyakit. Oleh karenanya, sambung Retno, dinas pertanian dan tanaman pangan setiap tahun terus melakukan berbagai upaya agar kawasan bebas rabies bisa terus dipertahankan.
Menurut dia, upaya antisipasi dilakukan dengan berbagai cara. Selain terus mendata terhadap jumlah populasi hewan pandemi, juga rutin memberikan vaksin terhadap hewan-hewan tersebut. Setiap tahunnya tidak kurang dari 200-350 ekor anjing, kucing atau pun kera diberikan vaksin pencegahan rabies.
“Memang dari sisi intensitas belum sebanding karena idealnya dari 70% populasi harus sudah diberikan vaksin. Tapi karena keterbatasan anggaran, maka proses dilaksanakan secara bertahap dan rutin diberikan setiap tahunnya,” imbuhnya.
Dokter Hewan Adhiva Shela mendukung langkah pemerintah untuk mencegah penyakit rabies. Pasalnya, penyakit ini tidak hanya menular kepada hewan, namun juga dapat menjangkiti manusia. “Pemberian vaksin terhadap anjing dan kucing merupakan salah satu upaya agar rabies tidak menyebar,” katanya.
Menurut dia, upaya pencegahan tidak semata-mata menjadi tugas dari pemerintah. Namun, masyarakat juga harus ikut berpartisipasi dengan melakukan perawatan terhadap hewan yang dipelihara. “Harus dirawat secara teratur, mulai dari kebersihan hingga kesehatannya. Sebab, jika dipelihara dengan sembarangan maka tidak menutup kemungkinan menjadi sumber penyebaran penyakit,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pengurus Golkar tingkat kapanewon mendesak Musda Gunungkidul segera digelar setelah tertunda hampir setahun sejak dijadwalkan pada November 2025.
BPS DIY memproyeksikan produksi beras 2026 mencapai 329.020 ton, naik 5,79% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kasus penyadapan Listyo Sigit Cs disorot pengamat. Bambang Rukminto mendesak polisi mengusut pihak yang memerintahkan penyadapan.
PAD wisata Bantul terancam kembali tak mencapai target. DPRD menyoroti penurunan kunjungan dan potensi kebocoran retribusi.
Gerindra mendesak Polri mengungkap otak, pemberi perintah, dan pihak yang terlibat dalam kasus dugaan penyadapan Presiden Prabowo.
Profil Ariyo Windutomo, jenderal TNI yang ditunjuk Prabowo menggantikan Listyo Sigit sebagai Kepala Staf Kepresidenan.