Semarak Milad Muhammadiyah ke-113, Aisyiyah Trirenggo Gelar Gowes
Bersepeda bukan hanya soal olahraga, tetapi juga sarana menumbuhkan energi positif, memperkuat silaturahmi, dan meneguhkan peran perempuan dalam gerakan dakwah
Spanduk yang dipasang wali siswa di gedung sekolah SD Negeri 2 Blunyahan, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, Senin (18/2/2019)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Koordinator Wilayah (Korwil) Kecamatan Sewon mengklaim sudah berupaya memuluskan penempatan MY Titik Marsiswati sebagai Kepala SDN 2 Blunyahan di Kaliputih, Pendowoharjo, Sewon, Bantul.
“Upaya kami sudah maksimal dalam mengamankan SK Bupati [tentang penempatan Titik sebagai Kepala SDN 2 Blunyahan] tetapi kenyataannya seperti itu. Kami upayakan amankan situasi tapi hasilnya tetap sama [warga tetap menolak kehadiran MY Titik Marsiswati],” kata Koordinator Pengawas Sekolah Korwil Sewon, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Bantul, Isyanti, Senin (18/2/2019).
Pernyataan Isyanti ini menanggapi penolakan warga Kaliputih dan wali siswa SDN 2 Blunyahan atas kehadiran kepala sekolah baru. Isyanti mengatakan gejolak warga itu sudah dirasakan sejak Titik Marsiswati dilantik pada 18 Januari lalu. Dasar penolakan itu karena hubungan sosial Titik dengan warga yang kurang baik.
Gejolak tersebut adalah imbas dari penolakan wali siswa di SDN Winongo, tempat MY Tutik Marsiswati menjadi kepala sekolah sebelumnya. Di sekolah itu, Titik hanya bertahan tiga bulan. Gejolak merembet ke SDN 2 Blunyahan yang lokasinya tidak terlalu jauh.
Isyanti mengaku sudah menyampaikan persoalan tersebut ke atasannya di Disdikpora Bantul. Disdikpora juga sudah menawarkan agar Titik Marsiswati menempati jabatan kepala sekolah SD di Dlingo.
Namun akhirnya Titik membuat surat pernyataan mengundurkan diri dari Kepala Sekolah SDN 2 Blunyahan dan siap menjadi guru biasa. Belakangan SK Bupati tentang pengangkatan kepala sekolah MY Titik Marsiswati keluar. Isyanti mengatakan pejabat Korwil Sewon tidak tahu menahu proses keluarnya SK Bupati tersebut. Ia hanya mengetahui SK sudah keluar dan diminta untuk memfasilitasinya.
Proses penunjukan kepala sekolah biasanya melalui penilaian di korwil. Korwil mengajukan beberapa nama ke Disdikpora. Nama-nama yang diajukan tersebut merupakan nama hasil seleksi dan penilaian tingkat korwil secara tertutup.
Namun yang terjadi pada Titik tidak demikian.
“Tahu-tahu dia bawa SK Bupati,” uca dia. Isyanti sempat mempertanyakan SK kepala sekolah yang didapatkan Titik tersebut.
“Katanya sudah dipanggil ujian kepala sekolah di Disdikpora. Tidak pernah dinilai dan diberi tahu. Itu jawabannya Bu Titik,” kata Isyanti. Ia tidak ingin membahas SK tersebut lebih jauh karena SK sudah keluar sehingga Korwil Sewon harus mengamankan SK tersebut meski hasilnya belum maksimal karena masih ada penolakan warga.
Kini MY Titik Marsiswati resmi menjadi Kepala SDN 2 Blunyahan. Sebelumnya ia menjabat Kepala SDN Winongo selama tiga bulan. Ia merupakan istri dari Sunaryo yang menjabat Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Sayangnya Titik enggan menjelaskan tudingan warga Ia mengaku tidak tahu menahu dan merasa sudah sesuai prosedur.
“Masalahnya apa saya juga tidak tahu. Saya sudah bicara dengan dukuh [kepala dusun] dan komite sekolah baik-baik saja,” ucap Titik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bersepeda bukan hanya soal olahraga, tetapi juga sarana menumbuhkan energi positif, memperkuat silaturahmi, dan meneguhkan peran perempuan dalam gerakan dakwah
KPK memperpanjang penahanan Bupati nonaktif Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terkait dugaan korupsi pemerasan OPD.
Mendag Budi Santoso memastikan impor bahan baku plastik berupa nafta dari AS mulai masuk Indonesia pada pertengahan Mei 2026.
Kemenkes mengingatkan cara aman menyimpan dan mengolah daging kurban agar terhindar dari bakteri dan penyakit zoonosis saat Iduladha.
Puluhan warga Garongan datangi Kantor Bupati Kulonprogo dan mendesak Lurah Garongan dinonaktifkan terkait dugaan pungli.
Kemenkes menyiapkan tiga langkah untuk memperkuat peran bidan dalam menangani kesehatan mental ibu hamil dan ibu menyusui.