Talut Progo Jebol, Imbas Kerusakan Ancam 2 Dusun

Jalu Rahman Dewantara
Jalu Rahman Dewantara Rabu, 20 Februari 2019 06:00 WIB
Talut Progo  Jebol, Imbas Kerusakan Ancam 2 Dusun

Kondisi kerusakan bangunan talut di Desa Brosot, Kecamatan Galur, Selasa (19/2/2019).-Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara

Harianjogja.com, KULONPROGO—Talut Sungai Progo di Desa Brosot, Kecamatan Galur yang tak jauh dari Jembatan Srandakan, Bantul belum diperbaiki meski sudah jebol sejak setahun terakhir ini.

Setidaknya dua dusun di Brosot, yakni Pulo dan Nepi, yang dihuni sekitar 20 kepala keluarga terancam limpahan air Progo bila erosi terus menggerus talut yang jebol itu.

“Pemerintah Desa Brosot khawatir erosi tanah bakal terus melebar ke barat. Ancamannya warga di Pulo dan Nepi karena mereka yang paling dekat dengan bibir sungai. Jaraknya sekitar 200 sampai 300 meter,” kata Kepala Seksi Pembangunan dan Pemberdayaan Pemerintah Desa Brosot, Suparjono, Selasa (19/2/2019).

Dia mengungkapkan jebolnya bangunan ini diduga berawal dari terjangan aliran Sungai Progo kala badai Cempaka melanda pada Desember 2017 silam. Namun, saat itu kerusakan belum terlalu parah. Baru kemudian pada Juni 2018 bangunan kembali jebol karena tanah penyangga tergerus aliran sungai.

Kejadian pada Juni 2018 dianggap jauh lebih parah dalam merusak talut Progo. Pemdes Brosot sudah mengirimkan surat permintaan perbaikan sebanyak dua kali pada 2017 dan 2018 ke Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) sebagai pemangku kepentingan yang berwenang.

Suparjono mengaku pernah ada survei ke talut yang jebol itu namun sampai kemarin belum ada realisasi perbaikan. “Semoga kerusakannya segera diperbaiki agar warga Brosot bisa lebih aman,” paparnya.

Warga Dusun Pulo, Sarjio, 63, mengaku kekhawatiran warga atas rusaknya bangunan tersebut tidak hanya karena erosi yang ditimbulkan, tetapi juga termasuk keselamatan masyarakat sekitar. Penyebabnya, saban hari bangunan ini kerap digunakan sebagai lokasi melepas penat dan memancing.

“Sering untuk melepas penat warga dan terkadang juga mancing. Apalagi kalau pas volume Sungai Progo meninggi, nah yang kami khawatirkan itu kalau sampai ada yang jatuh,” kata laki-laki yang huniannya hanya berjarak 300 meter dari bibir Progo tersebut.

Dikatakan Sarjio, lokasi jebolnya bangunan sebelumnya pernah dipasang garis polisi, tapi hilang entah ke mana. Atas hal itu dia mengharapkan pemberian pagar di sekitar talut bisa dilakukan untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Galih Eko Kurniawan
Galih Eko Kurniawan Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online