Harianjogja.com, JOGJA--Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi meminta kepada peserta kampanye untuk mematuhi aturan dan kesepakatan tidak tertulis, perihal titik dan zona kampanye. Hal itu, bertujuan untuk mencegah konflik terjadi dalam pelaksanaan Pemilu 2019.
Secara terbuka Heroe membenarkan, di Jogja terdapat fanatisme dalam partai. Setiap kampanye, hampir bisa dipastikan konflik terjadi, meskipun sudah dilakukan antisipasi. Melihat ini, maka yang penting saat ini adalah bagaimana segenap pihak bisa mengedukasi, bahwa untuk mencegah terjadinya konflik, sebetulnya sudah ada aturan tidak tertulis.
"Setiap konvoi partai [untuk simpatisan dari parpol tertentu] kan sudah ada kesepakatan tidak boleh lewat jalan ini jalan itu, maka ikuti kesepakatan itu. Supaya mengurangi konflik yang ada. Konflik itu hanya terjadi di jalan tertentu dan terulang di setiap Pemilu," ujarnya, usai menghadiri pemusnahan barang bukti 1.083 batang tanaman ganja, di Lapangan Panahan, Timoho, Senin (5/3/2019).
Pemkot berharap, agar semua unsur masyarakat bisa turut berpartisipasi menciptakan suasana aman, nyaman, damai, kondusif untuk perhelatan demokrasi Pemilu.
"Kita jaga untuk mematuhi kesepakatan, hormati satu sama lain. Jauhkan kerusuhan kericuhan," pinta Heroe.
Selama ini, pemerintah, aparat keamanan dan pihak lain terkait sudah berupaya mendamaikan pihak-pihak yang kerap berkonflik ini, dipertemukan dalam berkali-kali kesempatan dan melakukan pernyataan bersama. Menurut Heroe, situasi akan tetap aman asalkan tidak ada provokasi kelompok satu sama lain.
Selain itu, sudah ada koordinasi antara Pemkot dan kepolisian dalam upaya mewujudkan situasi yang aman. Bahkan pengawasan oleh aparat juga sudah dilakukan sejak jauh hari.
Kapolresta Jogja, Kombes Pol Armaini menyebutkan, berdasarkan pemetaan yang dilakukan, Kota Jogja rawan gesekan antara laskar-laskar partai, terutama \'laskar merah\' dan \'hijau\'. Ia tidak menampik, ketika wartawan menyebut warna tersebut berafiliasi pada partai PDIP untuk merah dan PPP untuk hijau.
"Karena memang yang dominan di sini itu, sebetulnya dari partai lain juga ada, Gerindra punya massa juga, kami akan petakan semua. Setelah dipetakan, yang dilakukan berikutnya adalah pengaturan jadwal. Kami berkoordinasi dengan KPU dan Bawaslu, jangan sampai jadwal bersamaan, berdekatan atau tempatnya sama, ini rawan gesekan," ujarnya.
Armaini memandang, konflik antara dua laskar ini tidak terjadi di hari-hari biasa, namun ketika ada acara yang bersinggungan dengan politik, maka antisipasi harus mulai dilakukan. Misalnya saja pada rapat terbuka, yang sedianya berlangsung 24 Maret 2019. Di masa itu, dikhawatirkan mereka mulai memotori pengerahan kekuatan dan massa yang sifatnya masif.
Ia menyebut, titik rawan yang sudah dipetakan antara lain Ngabean sebagai titik singgung basis merah dan hijau, Jogokariyan terpetakan sebagai lokasi yang pernah terjadi konflik sebelumnya, Warungboto sebagai titik yang dominan massa hijau.
"Berdasarkan peta ini, nanti ketika pelaksanaan pengamanan, kami atur jalurnya, misalnya merah mau lewat, kami atur jalur yang aman. Jangan sampai di tengah jalan, merah dan hijau ini bertemu, untuk mencegah gesekan," tuturnya.
Sekitar 1.500 personel Polresta Jogja yang berasal dari 14 Polsek akan dikerahkan, disiagakan dengan sistem plotting dan mobile. Mereka juga akan bertugas dengan tambahan personel dari Brimob, Polda DIY. Polresta Jogja juga berkoordinasi dengan Polres lintas wilayah.
"Dari Kapolri belum ada dorongan untuk tambah pasukan," ucapnya.
Satu langkah lain untuk meminimalisasi gesekan dilakukan dengan menindak knalpot blombongan dengan tegas. Walaupun saat ini intimidasi dan provokasi yang dilakukan lewat knalpot sudah menurun. Skala ketegasan aparat akan dinaikkan secara perlahan.
Sementara itu, Ketua Bawaslu Kota Jogja, Tri Agus Inharto mengatakan, berdasarkan pemetaan dari Bawaslu Kota Jogja, kerawanan terdapat di TPS banyak calon legislatif, misalnya Kecamatan Ngampilan, Kecamatan Kotagede dan Kecamatan Gondokusuman. Selain itu TPS padat penduduk dan memiliki dinamika penduduk cukup tinggi, seperti Tukangan (Kecamatan Danurejan), Jlagran (Kecamatan Gedongtengen).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.