Kemenhut Pastikan Penanganan Kebakaran TNBTS Berjalan Terpadu
“Untuk pemadaman sekarang, ada tiga helikopter yang sudah beroperasi untuk pemadaman titik api, terutama di kelerengan yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan,"
Anggota Bawaslu Bantul Supardi menunjukan data WNA yang masuk dalam DPT pemilu. /Harian jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL-Sebanyak delapan warga negara asing (WNA) yang tinggal di Bantul masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) pemilu 2019. Temuan tersebut berdasarkan hasil penelusuran Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bantul.
Kedelapan WNA itu berasal dari Belanda empat orang dan empat lainnya masing-masing dari Jepang, Amerika Serikat, Swiss, dan Malaysia. Anggota Bawaslu Bantul, Supardi mengatakan delapan WNA yang masuk DPT tersebut ditemukan empat orang di Kecamatan Banguntapan, tiga orang di Kasihan, dan satu orang di Kecamatan Kretek.
"Satu WNA di Kasihan nomor induk kependudukannya ganda antara orang Indonesia dan WNA," kata Supardi, saat ditemui di kantornya, Rabu (6/3/2019).
Temuan tersebut diakui Supardi sudah dilaporkan ke Bawaslu DIY dan Bawaslu RI untuk ditindaklanjuti. Menurut Supardi dari hasil penelusuran di lapangan WNA yang namanya tercantum dalam DPT sudah menolak untuk dimasukkan, namun tetap dimasukkan oleh petugas pemutakhiran data pemilih.
Namun demikian ia meyakini keteledoran tersebut tidak ada unsur kesengajaan, melainkan karena kurang telitinya pantarlih.
Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Bantul terdapat 77 WNA yang tinggal di Bantul dan memiliki KTP. Dari jumlah tersebut sebanyak 43 orang sudah memiliki KTP elektronik tetap karena sudah menetap di Bantul. Adapun sisanya masih memegang KTP sementara. Sebagian besar bekerja di pabrik swasta.
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bantul, Mestri Widodo menyatakan temuan WNA masuk DPT tersebut segera dicoret meskipun DPT sudah ditetapkan, "Jelas akan dicoret karena ada hal yang terlanggar bahwa yang bisa masuk DPT adalah yang memiliki KTP elektronik WNI, sementara WNA tidak bisa," kata Mestri.
Mestri menampik temuan tersebut karena keteledoran Pantarlih. Menurut dia, dalam proses pencocokan dan penelitian data pemilih oleh pantarlih memungkinkan WNA masuk karena yang bisa masuk DPT adalah pemilih yang bisa menunjukan KTP elektronik dan kartu keluarga (KK). Sementara WNA juga memiliki hak memiliki KTP elektronik yang dikeluarkan Disdukcapil Bantul.
WNA yang tercatat di DPT itu memang sebagian besar memiliki istri atau suami WNI, sehingga pantarlih tidak melihat kolom kewarganegaraannya dan baru diketahui setelah masuk DPT. Pihaknya berterimakasih dan berharap masyarakat ikut mengawasi sehingga jika ada temuan kesalahan lagi bakal dilakukan perbaikan sampai sebelum hari pemungutan suara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
“Untuk pemadaman sekarang, ada tiga helikopter yang sudah beroperasi untuk pemadaman titik api, terutama di kelerengan yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan,"
Pergantian Menkeu dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara dinilai membuat pasar tetap stabil karena memberi kepastian fiskal.
Gunungkidul mendapat tambahan anggaran untuk 5.100 tangki air bersih. Bantuan disalurkan hingga November karena krisis air masih terjadi.
Suahasil Nazara resmi jadi Menkeu. Pergantian ini dinilai positif, tetapi rupiah dan pasar obligasi berpotensi volatil dalam jangka pendek.
Saleh Husin berharap Menkeu Suahasil Nazara mengedepankan kebijakan fiskal pro-growth dan mendengar kebutuhan dunia usaha serta industri.
Banggar DPR menyebut anggaran kebencanaan naik menjadi Rp1,1 triliun dari Rp494 miliar. Dana siap pakai bencana juga disiapkan Rp5 triliun.