Gawat, Bau Sampah Meluas

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Kamis, 28 Maret 2019 07:07 WIB
Gawat, Bau Sampah Meluas

Seorang pemulung tengah memilah sampah di TPST Piyungan beberapa waktu lalu./Harian Jogja- Nur Uswatun Khasanah (M123)

Harianjogja.com, BANTUL--Sejak Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan berhenti beroperasi, sejumlah pengelola sampah di masyarakat ikut kelimpungan. Mereka terkena dampak protes warga akibat sampah tidak diambil dan menyebabkan bau dimana-mana. 

Mardiyo Sutoyo, pusing bukan kepalang karena diprotes banyak warga akibat bau sampah yang menyengat di sekitar Depo Pasar Bantul atau tempat pembuangan sampah sementara sebelum dibawa ke TPST Piyungan.

Puluhan sampah menumpuk di Depo Pasar Bantul sejak Minggu (24/3/2019) lalu. Padahal dalam sehari depo tersebut dipenuhi 12 meter kubik sampah yang terdiri dari sampah pedagang pasar, sampah rumah tangga warga sekitar pasar, dan sampah dari jalan raya sekitar pasar.

Sampah-sampah tersebut kemudian diangkut truk sehari dua kali, pagi dan sore. Namun sudah empat hari sampah dibiarkan menumpuk. Akibatnya bau menyengat tidak bisa dihindarkan. Depo tersebut pun ditutup. "Sudah ditutup untuk sementara," kata Mardiyo.

Meski ditutup namun bau menyengat tetap terasa dan mengganggu warga, "Itu warga juga mengeluh. Tapi bagaimana lagi sudah dilaporkan tapi karena memang TPST Piyungannya yang ditutup jadi tidak bisa buang," kata Mardiyo.

Bukan hanya keluhan sampah dari Depo Pasar Bantul. Namun Mardiyo juga diprotes karena sampah tidak diambil di rumah-rumah warga di Dusun Kurahan, Desa Bantul, Kecamatan Bantul, Bantul, yang lokasinya tepat di selatan Pasar Bantul.

Mardiyo menjadi sasaran protes warga karena selain menjabat sebagai Kepala Dusun, ia juga sebagai salah satu pengurus Depo Sampah Pasar Bantul. Kondii serupa juga dialami pengelola sampah di Pedukuhan Bogoran, Trirenggo, Bantul, Andri Suryanto.

Andri mengaku belum bisa mengambil sampah dari rumah warga karena TPST Piyungan tutup. Ia sudah menyampaikan permohonan kepada warga yang mengeluh karena sampahnya tidak diambil. Biasanya ia bersama sejumlah pemuda Bogoran yang mengelola sampah mengambil sampah dari rumah-rumah warga sepekan dua kali.

Tiap pengambilan satu pikap penuh langsung dibuang ke TPST Piyungan. Ia berharap pemerintah membuka kembali TPST Piyungan karena tidak memiliki tempat alternatif untuk membuang sampah, "Sementara ini sampah dibiarkan dulu di rumah warga," kata dia. Tak hanya didiamkan, beberapa warga ada yang membakarnya supaya sampah tidak menumpuk.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul, Ari Budi Nugroho mengklaim kondisi sampah di Bantul masih terkendali meskipun ada penutupan TPST Piyungan. Ia mengatakan sampah masih tertampung di depo dan rumah pilah sampah (RPS). Total RPS di Bantul saat ini ada 31 unit, belum termasuk yang dalam roses pembangunan 19 unit RPS.

Masing-masing RPS berukuran 3x4 dan 4x5. Sejauh ini diakui Ari, sampah yang dibuang ke TPST Piyungan hanya 20% dari total sampah 3 wilayah Bantul, Sleman dan Jogja. "Saya kira masih terkendali. Meskiun harapan saya TPST Piyungan segera beroperasi kembali," kata Ari.

Selama proses penumpukan sampah di masyarakat, Ari meminta sampah tidak dibakar karena bisa mencemari lingkungan.

Sebelumnya Kepala Bidang Persampahan DLH Bantul, Wahid mengatakan volume sampah yang dihasilkan dari Bantul dalam sehari sekitar 550-600 ton. Dari jumlah tersebut yang dibuang hanya sekitar 150-200 ton. Sisanya dikelola masyarakat melalui RPS, jaringan pengelolaan sampah mandiri di sejumlah dusun.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online