Kelok 23 Dievaluasi 21 September, Bus Masih Dilarang Melintas
Kelok 23 masih uji coba hingga 20 September 2026. Evaluasi 21 September menentukan kelayakan jalan sebelum dibuka untuk umum.
Foto ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), untuk program Waste to Energy atau Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL). Foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, BANTUL—Penetapan Kabupaten Bantul sebagai proyek percontohan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) hingga kini belum menunjukkan progres nyata di lapangan. Mandeknya realisasi proyek PSEL Bantul ini disebabkan belum turunnya dukungan pendanaan dari Danantara, sehingga pembangunan belum bisa dimulai.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengungkapkan, rencana pembangunan PSEL sebenarnya telah dibahas sejak 2025 dan sempat ditargetkan mulai berjalan pada awal 2026. Namun, hingga saat ini proyek tersebut masih tertahan karena dukungan anggaran yang diharapkan belum terealisasi.
“Dulu rencananya dibangun awal tahun 2026 karena pembahasannya itu sudah sejak 2025. Sedianya tahun ini sudah beroperasi, tapi faktanya dari Danantara belum turun,” ucapnya Selasa (28/4).
Halim menilai kondisi ini semakin memperberat upaya penanganan sampah di Bantul, mengingat volume sampah yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Aktivitas masyarakat yang tidak pernah berhenti turut mendorong lonjakan produksi sampah harian.
“Ini menjadi tantangan baru karena volume sampah itu tidak pernah turun,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan PSEL Bantul menjadi kebutuhan mendesak di tengah tren peningkatan timbulan sampah. Perubahan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat modern juga ikut memperparah kondisi, terutama dengan maraknya penggunaan kemasan sekali pakai.
“Orang yang makin sejahtera itu makin banyak memproduksi sampah. Lalu gaya hidup kita hari ini adalah gaya hidup yang memproduksi semakin banyak sampah, contohnya dengan banyaknya kemasan dari pesan makanan secara daring,” katanya.
Sembari menunggu kepastian pembangunan PSEL Bantul, Pemerintah Kabupaten Bantul berupaya mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah yang telah tersedia. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mendorong peningkatan kapasitas Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu (ITF) di Bawuran.
“Maka kami mendorong agar ITF Bawuran itu ditingkatkan volumenya. Tentunya dengan skema KSO dari BUMD Aneka Dharma dan juga perusahaan yang mau berinvestasi,” ucapnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Kusno Wibowo, menyebut hingga kini belum ada kepastian terkait pemenang lelang maupun jadwal peletakan batu pertama proyek PSEL Yogyakarta. Ketidakpastian ini juga berdampak pada belum dilakukannya tahap awal pembangunan di lokasi proyek.
“Kami belum mendapat kabar pastinya,” ujarnya, Kamis (23/4) lalu.
Pemerintah Daerah (Pemda) DIY masih menunggu kejelasan dari Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) sebelum melakukan land clearing. Meski demikian, Kusno tetap berharap proyek PSEL Yogyakarta dapat masuk dalam agenda groundbreaking yang direncanakan berlangsung pada Juni 2026, seiring upaya percepatan penanganan sampah di wilayah DIY yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
“Mudah-mudahan termasuk yang Juni 2026,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelok 23 masih uji coba hingga 20 September 2026. Evaluasi 21 September menentukan kelayakan jalan sebelum dibuka untuk umum.
Esteban Ocon memutuskan meninggalkan Haas pada akhir musim F1 2026 setelah menjalani 39 balapan bersama tim tersebut
Bupati Gunungkidul memberi ASN waktu 1,5 jam tiap Jumat awal bulan untuk belanja di pasar tradisional dan UMKM.
inflasi September 2026 diproyeksi mencapai 3,34%-3,35%, dipicu pangan, El Nino, MBG, dan kenaikan harga minyak dunia.
Delapan gerai KDMP Bantul telah diverifikasi. Hasil pemeriksaan akan menjadi bahan laporan tim dan review BPKP terkait pembangunan.
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih mulai beroperasi 1 Oktober 2026 dan akan dievaluasi pemerintah pada 7 Oktober.