2 Pelaku Pembacokan Petugas TPR Parangtritis Ditangkap, Ini Motifnya
Polisi menangkap dua pelaku pembacokan petugas TPR Parangtritis di Bantul. Aksi tersebut dipicu kesalahpahaman terkait hilangnya alat pancing setelah kecelakaan
Foto ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), untuk program Waste to Energy atau Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL). Foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, BANTUL—Penetapan Kabupaten Bantul sebagai proyek percontohan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) hingga kini belum menunjukkan progres nyata di lapangan. Mandeknya realisasi proyek PSEL Bantul ini disebabkan belum turunnya dukungan pendanaan dari Danantara, sehingga pembangunan belum bisa dimulai.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengungkapkan, rencana pembangunan PSEL sebenarnya telah dibahas sejak 2025 dan sempat ditargetkan mulai berjalan pada awal 2026. Namun, hingga saat ini proyek tersebut masih tertahan karena dukungan anggaran yang diharapkan belum terealisasi.
“Dulu rencananya dibangun awal tahun 2026 karena pembahasannya itu sudah sejak 2025. Sedianya tahun ini sudah beroperasi, tapi faktanya dari Danantara belum turun,” ucapnya Selasa (28/4).
Halim menilai kondisi ini semakin memperberat upaya penanganan sampah di Bantul, mengingat volume sampah yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Aktivitas masyarakat yang tidak pernah berhenti turut mendorong lonjakan produksi sampah harian.
“Ini menjadi tantangan baru karena volume sampah itu tidak pernah turun,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan PSEL Bantul menjadi kebutuhan mendesak di tengah tren peningkatan timbulan sampah. Perubahan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat modern juga ikut memperparah kondisi, terutama dengan maraknya penggunaan kemasan sekali pakai.
“Orang yang makin sejahtera itu makin banyak memproduksi sampah. Lalu gaya hidup kita hari ini adalah gaya hidup yang memproduksi semakin banyak sampah, contohnya dengan banyaknya kemasan dari pesan makanan secara daring,” katanya.
Sembari menunggu kepastian pembangunan PSEL Bantul, Pemerintah Kabupaten Bantul berupaya mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah yang telah tersedia. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mendorong peningkatan kapasitas Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu (ITF) di Bawuran.
“Maka kami mendorong agar ITF Bawuran itu ditingkatkan volumenya. Tentunya dengan skema KSO dari BUMD Aneka Dharma dan juga perusahaan yang mau berinvestasi,” ucapnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Kusno Wibowo, menyebut hingga kini belum ada kepastian terkait pemenang lelang maupun jadwal peletakan batu pertama proyek PSEL Yogyakarta. Ketidakpastian ini juga berdampak pada belum dilakukannya tahap awal pembangunan di lokasi proyek.
“Kami belum mendapat kabar pastinya,” ujarnya, Kamis (23/4) lalu.
Pemerintah Daerah (Pemda) DIY masih menunggu kejelasan dari Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) sebelum melakukan land clearing. Meski demikian, Kusno tetap berharap proyek PSEL Yogyakarta dapat masuk dalam agenda groundbreaking yang direncanakan berlangsung pada Juni 2026, seiring upaya percepatan penanganan sampah di wilayah DIY yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
“Mudah-mudahan termasuk yang Juni 2026,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polisi menangkap dua pelaku pembacokan petugas TPR Parangtritis di Bantul. Aksi tersebut dipicu kesalahpahaman terkait hilangnya alat pancing setelah kecelakaan
Simak daftar 10 tablet Android tercepat versi AnTuTu edisi Mei 2026 yang dipimpin oleh Vivo Pad 6 Pro dengan skor melampaui 4 juta poin.
Produksi perikanan budidaya Sleman mencapai 25.068 ton hingga Mei 2026 dengan nilai ekonomi Rp694,55 miliar. Komoditas nila hingga lele mendominasi.
OpenAI meluncurkan mode belajar di ChatGPT yang membantu pelajar memahami materi secara bertahap dengan metode Socrates.
Pemkot Pekalongan mempertahankan opini WTP dari BPK RI untuk LKPD 2025. Capaian ini menjadi WTP ke-11 berturut-turut sejak 2015 meski di tengah tantangan bencan
Juara Piala Dunia ternyata tidak bisa membawa pulang trofi asli. FIFA hanya memberikan replika resmi, sementara trofi asli tetap disimpan di Swiss.