Target Pajak 11 Persen, Kemenkeu Hadapi Tantangan Global
Kemenkeu kejar target tax ratio 11 persen sesuai arahan Presiden Prabowo, namun dihadang tantangan ekonomi global.
Petani di Dusun Bugel, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Suhadi sedang mengurusi lahannya yang ditanami melon pada Sabtu (30/3/2019). /Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan.
Harianjogja.com, KULONPROGO--Petani cabai di Pesisir Selatan Kulonprogo sudah mulai beralih menanam melon dan semangka karena hasil panen cabai sebelumnya yang tidak menguntungkan.
Petani cabai di Dusun Bugel, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Suhadi mengaku, hasil panenan cabai terakhir kali di Januari dan Februari mengalami kerugian. "Harganya sampai Rp3.000, padahal normalnya, kalau mau balik modal minimal Rp15.000," ujarnya pada Harian Jogja, Sabtu (30/3/2019).
Suhadi mengatakan karena panennya yang rugi itu petani di Pesisir Selatan Kulonprogo kini beralih menanam melon dan semangka. "Saya sudah mulai menanam melon dari awal Maret. Sebagian lahan juga masih ditanam cabai lagi, tapi sedikit," ungkapnya. Lahan yang ia garap luasnya sampai 1.000 meter persegi.
Hasil dari ia menanam melon dianggap lebih menguntungkan. Diperkirakan ia akan mulai bisa memanen melonnya di akhir April atau awal Mei. Per kilogramnya kemungkinan bisa sampai Rp2.500 atau kalau sedang bagus harganya bisa sampai Rp6.000.
Ia mengaku, hasil kualitas cabai yang ia panen di bulan-bulan sebelumnya tergolong bagus. Hanya saja, ia menduga, sepinya permintaan dari Jakarta membuat cabai Kulonprogo hanya mampu dipasarkan di lokalan saja.
Setelah harganya terlampau jatuh, petani cabai banyak yang membongkar lahannya, bahkan sebagian ada yang membakar tanamannya. Setelah dikosongkan, petani beralih menanam melon dan semangka.
Ketua Kelompok Tani Gisik Pranaji, di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Sukarman mengatakan, petani di Pesisir Selatan Kulonprogo biasanya mendistribusikan hasil panenan cabainya ke Jakarta dan Sumatera melalui pasar lelang cabai. Namun, harga cabai terakhir jatuh karena di Jakarta stoknya sudah melimpah, sehingga tidak lagi menerima stok dari Kulonprogo.
Selain itu, menurutnya, masuknya cabai impor pun diduga menjadi sebab cabai lokal Kulonprogo tidak laku lagi di Jakarta. "Harapannya pemerintah bisa memaksimalkan produk cabai lokal dan tidak mementingkan impor karena bisa membuat harga cabai terlampau rendah," kata Sukarman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelurahan Kadipaten menggelar pelatihan pemanfaatan lahan pekarangan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga dan mendorong pertanian perkotaan.
PT Astra International Tbk (Astra) terus memperkuat pengembangan Desa Sejahtera Astra Sumba Timur sebagai sentra pelestarian Tenun Ikat khas Sumba
BMKG melaporkan fenomena haze menyelimuti Pulau Lombok. Jarak pandang sempat turun hingga 1 kilometer, sementara empat daerah di NTB berstatus waspada kekeringa
Dinkes DIY mengimbau warga mencukupi cairan dan mengurangi paparan sinar matahari di tengah cuaca panas yang berpotensi meningkatkan risiko ISPA.
Ketua Banggar DPR Said Abdullah menolak usulan kenaikan gaji kepala daerah. Menurutnya, pemerintah perlu memprioritaskan stabilitas fiskal negara.