Otonomi Daerah DIY Didorong Berbasis Keadilan dan Kearifan Lokal
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Wira Waditara mementaskan komposisi karya Ki Tjokrowarsito Jaya Manggala Gita di Concert Hall TBY, Minggu (21/4/2019)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Komposisi Jaya Manggala Gita karya Ki Tjokrowarsito dimainkan secara apik di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Minggu (21/4/2019). Dalam acara bertajuk Pagelaran Karawitan TBY yang digelar di Concert Hall TBY itu, sejumlah kelompok karawitan berpadu memainkan komposisi yang diciptakan Ki Tjokrowarsito pada 1952 tersebut.
Beberapa kelompok karawitan yang turut andil memainkan komposisi tersebut di antaranya mahasiswa dari beberapa kampus seperti ISI Jogja, UGM, Sanata Dharma, UKDW, serta siswa-siswi SMKI Jogja. Mereka tergagabung dalam Pengrawit Muda Yogyakarta, Wira Waditara.
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbu) DIY, Aris Eko Nugroho, mengatakan pementasan ini merupakan apresiasi untuk karya-karya Ki Tjokrowarsito, yang telah memberi kongribusi banyak kepada dunia seni budaya tanah air. "Kami berharap anak muda di sini bisa jadi penerus dari almarhum," kata dia, Minggu.
Sekadar diketahui, Ki Tjokrowarsito adalah seorang empu (tokoh ahli) karawitan dan salah satu seniman gamelan Jawa yang paling dihormati. Seniman bernama asli KPH Notoprojo atau yang juga biasa dikenal dengan KR T Wasitodiningrat itu lahir di Gunungketur, Pakualaman, Jogja pada 17 Maret 1909 dan meninggal di usia 98 tahun.
Ki Tjokrowarsito dikenal sebagai pemimpin gamelan Pura Pakualaman serta gamelan untuk Radio Republik Indonesia Jogja. Selain itu dia aktif mengajar gamelan di sejumlah universitas di beberapa negara.
Dikenal sebagai komposer dan pemain rebab andal, Ki Tjokrowarsito mampu mendunia dengan karya komposisi gamelannya yang merakyat seperti Kuwi Opo Kuwi, Gugur Gunung, Modernisasi Desa, dan Jaya Manggala Gita.
Jaya Manggala Gita yang diciptakan Ki Tjokrowarsito pada 1952 memiliki makna sebagai tembang kejayaan. Komposisi ini kali pertama dipentaskan pada 17Agustus 1952, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI. Sejak saat itu, komposisi ini selalu disiarkan di RRI setiap 17 Agustus.
Karya ini terbilang unik lantaran keluar dari pakem-pakem karawitan. Disajikan dengan laras slendro dan pelog, lengkap dengan tiga pathet pada masing-masing laras. Kodok Ngorek, Carabalen Sekaten dan Monggang sebagai bagian dari komposisi semakin memberi nuansa sakral pada Jaya Manggala Gita.
Kepala TBY Diah Tutuko Suryandaru mengatakan pergelaran tersebut merupakan upaya TBY mengajak generasi muda agar bisa nguri-uri kabudayan jawi. Menurut dia generasi sekarang harus mengenal siapa saja tokoh-tokoh musisi tradisional tempo dulu.
Dia menilai karawitan kini sudah kian berkembang. Hampir setiap sekolah dan di dusun setidaknya sudah memiliki perangkat gamelan. Untuk itu dia berpesan kepada generasi muda untuk tetap melestarikan gamelan sebagai kesenian tradisional. "Boleh kolaborasi dengan budaya modern, tapi gamelan jangan ditinggalkan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Prabowo minta TNI-Polri bersih dari praktik ilegal, tegaskan larangan backing judi, narkoba, dan penyelundupan.
Perdagangan hewan kurban Bantul naik jelang Iduladha 2026, omzet pedagang diprediksi tumbuh hingga 40 persen.
BRIN kembangkan pelat karet RCP untuk perlintasan KA, inovasi baru tingkatkan keselamatan dan kurangi risiko kecelakaan.
Prediksi Malut United vs Persita di Super League 2026, tuan rumah diunggulkan menang berkat lini depan tajam.
Budi Waljiman menyerahkan bantuan gamelan Suara Madhura untuk SMA Bosa Jogja guna memperkuat pelestarian budaya Jawa di sekolah.