PEH CUN 2013 : Ritual Jutbio Ditiadakan

04 Juni 2013 19:26 WIB Bantul Share :

 

[caption id="attachment_412864" align="alignleft" width="150"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/06/04/peh-cun-2013-ritual-jutbio-ditiadakan-412862/230612_bantul_peh-cun-2012_sur-24" rel="attachment wp-att-412864">http://images.harianjogja.com/2013/06/230612_BANTUL_Peh-Cun-2012_SUR-24-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /> Warga tionghoa bersama wisatawan berusaha mendirikan telur pada punca acara Peh Cun 2012 di pantai Parangtritis, Kretek, Bantul, Sabtu (23/6). Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja[/caption]

BANTUL: Upacara Peh Cun 2013 di Pantai Parangtritis, 9 dan 12 Juni mendatang, tidak akan diramaikan dengan ritual Jutbio atau perarakan empat dewa.

Ritual Jutbio dinilai tidak tepat jika dilekatkan dengan Peh Cun karena Jutbio merupakan ritual kelahiran klenteng setempat. Sebagai gantinya, panitia akan mengembalikan perayaan dengan memberikan penghormatan sosok sang menteri pada kerajaan Chu, di zaman negara-negara sedang berperang.

Pengamat Budaya Tionghoa DIY, Anggi Minarni mengatakan bahwa perayaan Peh Cun kali ini lebih difokuskan pada penghormatan sang menteri. Alhasil, perayaan lebih dikusukkan pada perayaan dayung naga.

“Tahun lalu memang kami coba untuk memasukkan ritual Jutbio, namun ternyata agak rancu maknanya. Makanya tahun ini kami akan kembali pada perayaan sang menteri, khususnya ritual perahu naga,” jelas Anggi saat dihubungi Harian Jogja, Selasa (4/6/2013).

Anggi menambahkan ritual menyebarkan kue Cang di sungai selalu dilakukan sebelum mengawali lomba perahu naga setiap tahunnya. Meskipun kue Cang yang disebar jumlahnya tidak banyak karena untuk simbolis saja.

“Kami malah menekankan mengajak makan bersama kue cang bukan bakcang. Kue Cang ini nantinya dibagikan pada siapa saja yang datang dengan diberikan gula pasir halus,” jelas Anggi.