SEPUTAR MERAPI : Ini Kata BPPTK Terkait Asap Hitam Yang Dikeluarkan Gunung Merapi

14 Juni 2013 16:52 WIB Redaksi Solopos Jogja Share :

[caption id="attachment_415920" align="alignleft" width="150"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/06/14/seputar-merapi-ini-kata-bpptk-terkait-asap-hitam-yang-dikeluarkan-gunung-merapi-415918/merapi-embusan-bbptk-ist-370x290" rel="attachment wp-att-415920">http://images.harianjogja.com/2013/06/MERAPI-EMBUSAN-BBPTK-IST-370x2901-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /> Foto Ilustrasi Hembusan Merapi
JIBI/Harian Jogja/IST[/caption]

JOGJA-Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta menyatakan, asap hitam yang dikeluarkan Gunung Merapi bukan pertanda adanya peningkatan aktivitas gunung api aktif tersebut namun merupakan kondisi normal aktivitas gunung.

"Aktivitas Gunung Merapi masih aktif normal. Asap gelap yang dikeluarkan Merapi hari ini merupakan asap solfatara yang normal dikeluarkan gunung api akibat adanya aktivitas pelepasan gas," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo di Jogja, Jumat (14/6/2013).

Menurut dia, asap hitam tebal yang dikeluarkan Gunung Merapi pada Jumat pagi membumbung setinggi sekitar 100 meter condong ke arah barat dan terlihat dari pos pengamatan Kaliurang Sleman, DIY dan dari Pos Pengamatan Boyolali Jawa Tengah.

Merapi kembali mengeluarkan asap solfatara berwarna putih tebal pada siang hari dengan tekanan lemah membumbung setinggi 500 meter.

Sebelumnya, kejadian munculnya asap tebal hitam dari Merapi juga sempat terjadi pada pertengahan Mei.

"Karenanya, masyarakat diminta tidak panik. Kejadian munculnya asap hitam tersebut masih normal," katanya.

Namun demikian, BPPTK Yogyakarta berharap agar para pendaki tetap memperhatikan faktor keselamatan dan tidak berlama-lama di sekitar puncak atau kawah karena dimungkinkan adanya pelepasan gas karbonmonoksida dan gas karbondioksida.

"Gas tersebut sangat berbahaya jika terhirup. Karenanya, pendaki harus tetap waspada. Jika di lereng saja tidak berbahaya," katanya.

Mengenai siklus empat tahunan letusan Merapi, Subandriyo mengatakan bahwa tidak ada siklus empat tahunan tersebut.

"Siklus rutin empat tahunan itu sebenarnya tidak ada. Merapi memiliki rentang waktu letusan yang acak antara satu hingga 18 tahun," katanya.