OPINI: Efisiensi Berkeadilan, Pedoman Konstitusional Program Strategis Pemerintah
Efisiensi berkeadilan menjadi pedoman penting dalam pelaksanaan MBG dan KDMP agar program memberi manfaat tanpa mematikan persaingan.
Harian Jogja.com, JOGJA — Komunitas Tjonthong melalui Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong akan menggelar pementasan Kethoprak dengan lakon Wong Agung Ing Bumiwangi di Gedung Concerthall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), pada hari lebaran ketiga dan keempat (10-11/8/2013).
Pementasan ini dipersembahkan kepada para wisatawan dan para pemudik yang kembali ke Jogja untuk merayakan Lebaran.
Lakon Wong Agung Ing Bumiwangi merupakan naskah karya Susilo Nugroho atau akrab disebut Den Baguse Ngarso.Den Baguse juga bertindak sebagai sutradara pementasan bersama Marwoto Kawer.
Pementasan ini bakal menampilkan sejumlah seniman yang tak asing lagi, di antaranya, Yu Beruk, Rini Widyastuti, Rio Srundeng, Novi Kalur, Nano Asmorodono, Marwoto, Den Baguse Ngarso, Romo Condroyono, Bagong Trisgunanto, Hargisundari, Sarjono, Sronto, Bayu Saptama, dan tak lepas kendali lighting Edo Nurcahyo serta dibalut ilustrasi musik oleh Warsana Kliwir.
Menurut Nicky Lazaready, Humas Ketoprak Ringkes Tjap Tjonthong, lakon Wong Agung Ing Bumiwangi sarat pesan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang ideal. Karenanya, pentas ini diharapkan bisa menjadi alat untuk menyentil pemimpin yang tidak cakap mengatur rakyatnya.
“Tokoh dalam pentas ini semuanya fiktif namun pesannya untuk memberikan contoh bagaimana sikap seharusnya menjadi seorang pemimpin,” katanya kepada Harian Jogja, Minggu (21/7/2013).
Pentas berdurasi selama 120 menit ini menceritakan Ki Ageng Bumiwangi seorang raja di kerajaan Bumiwangi yang menggabungkan negaranya dengan kerajaan Nusarukmi. Langkah yang kelihatan aneh dan nekad ini ternyata memiliki tujuan yang lebih besar yaitu menjadikan negara yang lebih besar dan benar benar terbebas dari penjajahan.
Hanya saja impian mulia Ki Ageng Bumiwangi itu ternyata tak seindah yang dibayangkan. Nusarukmi sebagai negara baru ternyata masih sangat ringkih. Alih-alih ingin merengkuh kejayaan dan kenikmatan. Penggabungan itu justru merugikan Nusarukmi karena banyak berkorban demi negara baru tersebut.
Ki Ageng Bumiwangi lantas tampil sebagai penyelamat. Ia harus melindungi dan menghidupi Prabu Gurnita Negara dan seluruh pembesar Nusarukmi yang melarikan diri karena kekacauan di ibukota negara. Kekacauan makin menjadi dan merambah daerah Bumiwangi.
Prabu Gurnita Negara dan Patih Adnyana Praja ditangkap musuh. Ki Ageng Bumiwangi mengambil alih kepemimpinan. Akhirnya dengan bantuan Senapati Bastugarba, Ragawaja, Mas Rara Tarasanti dan seluruh rakyat Bumiwangi, musuh akhirnya dapat dikalahkan. (Kurniyanto)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Efisiensi berkeadilan menjadi pedoman penting dalam pelaksanaan MBG dan KDMP agar program memberi manfaat tanpa mematikan persaingan.
John Herdman berjanji Timnas Indonesia memberikan seluruh kemampuan di FIFA ASEAN Cup 2026 setelah gagal di Piala AFF 2026.
Bahlil Lahadalia menegaskan cadangan BBM nasional aman sekitar 20 hari. Antrean di Makassar disebut terjadi karena perubahan pola konsumsi.
HMI Jogjakarta menggelar aksi di Polda DIY, menuntut penanganan serius kasus dugaan kekerasan seksual di Ponpes Ash-Sholihah Sleman.
BMKG mengingatkan potensi gelombang laut hingga 4 meter di sejumlah perairan Indonesia pada 14-17 September. Pelaku pelayaran diminta waspada.
Disdukcapil Kulonprogo mengingatkan warga soal penipuan aktivasi IKD yang meminta Rp10.000, nomor rekening hingga kode OTP.