Advertisement
Empat Master Tari Mencari Kedamaian
Advertisement
[caption id="attachment_438115" align="alignleft" width="450"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/08/15/empat-master-tari-mencari-kedamaian-438113/penari-berlatih-gilang-jiwana" rel="attachment wp-att-438115">http://images.harianjogja.com/2013/08/penari-berlatih-Gilang-Jiwana.jpg" alt="" width="450" height="307" /> Empat seniman yang tergabung dalam Be/Longing Project berdiskusi tentang seni tari yang akan mereka tampilkan, Rabu (14/8/2013). (JIBI/Harian Jogja/Gilang Jiwana)[/caption]
Harianjogja.com, SLEMAN – Berasal dari latar belakang yang berbeda, empat master tari berkolaborasi dalam proyek kesenian bertajuk Be/Longing.
Advertisement
Proyek kesenian yang diinisiasi seniman asal Amerika Serikat, Kun-Yang Lin ini berusaha menyajikan gerakan tari kontemporer yang menggambarkan impian empat seniman mengenai kedamaian ideal.
Kolaborasi yang diawaki oleh Katsura Kan (Jepang), Hsu-Hui Huang (Taiwan), Martinus Miroto (Indonesia) dan Kun-Yang Lin ini akan tampil perdana di Jakarta sebelum kembali ke Jogja untuk melakukan pertunjukkan di Bedog Arts Festival V 23 Agustus mendatang.
Lin, seusai sesi latihan di Banjarmili Dance Studio Sleman kepada Harian Jogja Rabu (14/8/2013), mengatakan proyek ini sebenarnya adalah proyek yang telah mereka rencanakan sejak lama.
Sebelumnya, keempat seniman tari itu telah beberapa kali bertemu untuk mengkolaborasikan karya mereka. Kali ini mereka ingin tampil dengan membawa pesan yang lebih kompleks.
Sesuai dengan tajuk proyek mereka, Be/Longing berusaha menggali jatidiri masing-masing penari dalam upaya mencapai impian akan kedamaian yang diwujudkan dalam perasaan tenang dan bahagia.
“Pesan itu akan kami sampaikan dalam seni gerak karena seni ini merupakan bahasa universal. Meski berbeda latar belakang bangsa dan bahasa, tetapi melalui seni tari pesan itu dapat tetap diterima,” ungkapnya.
Selain itu, pemilihan empat penari berlatar belakang Asia ini terinspirasi dari kesamaan akar budaya mereka. Menurut pendiri Kun-Yang Lin/Dancers Philadelphia ini, akar budaya di Asia adalah kebudayaan yang lekat dengan alam sehingga harmonisasi antara manusia dan alam menjadi salah satu pesan kedamaian yang akan disampaikan dalam gerakan tari mereka.
“Itu pula sebabnya kami memilih Banjarmili sebagai awal. Tempat ini sangat dekat dengan alam, kami bisa berinteraksi dengan elemen alam yang membawa suasana tenang,” imbuh Lin.
Pemilik dan pengelola Banjarmili Studio, Martinus Miroto mengungkapkan proyek ini berlatar belakang kegundahan masing-masing seniman yang bertanya mengenai jatidiri mereka. Keempatnya mengalami krisis jatidiri karena mendapatkan terpaan berbagai budaya. Akibatnya akar budaya asal mereka terkikis oleh budaya luar.
“Di sini kami seperti masuk ke dalam inkubator dan menunggu untuk dilahirkan kembali dengan jiwa yang lebih harmonis dengan alam sekitar,” kata Miroto.
Rencananya, kolaborasi Be/Longing tak hanya akan mereka tampilkan di Indonesia. Mereka berharap dapat membawa karya seni ini ke berbagai tempat di seluruh dunia untuk menyampaikan pesan serupa.
Project Manager Be/Longing Ken Metzner menambahkan, rencana itu sudah ada dalam angan-angan mereka, tetapi untuk saat ini Be/Longing masih akan memfokuskan pada penampilan perdana mereka di Indonesia.
“Kami memiliki keinginan untuk membawa kolaborasi ini ke berbagai belahan dunia. Tetapi untuk saat ini kami akan mengasah konsep ini serta membuat Indonesia dan Jogja sebagai titik awal,” pungkas Metzner.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement





