Renovasi Stadion Mandala Krida Tertunda, DPRD DIY Ungkap Fakta Penting
DPRD DIY soroti dokumen renovasi Mandala Krida yang belum lengkap. MC-0 dan DED 2026 terancam tertunda.
Pementasan tablo Kisah Sengsara Yesus Kristus bertajuk Salib Tanda Cinta di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Pugeran, Jumat (3/4/2026). - Harian Jogja/Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Pementasan tablo “Salib Tanda Cinta” di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Pugeran, di Jogja, menghadirkan energi baru dari generasi muda yang menjadi penggerak utama dalam memaknai Jumat Agung lewat seni pertunjukan.
Digelar pada Jumat (3/4/2026), pementasan ini melibatkan mahasiswa hingga Orang Muda Katolik (OMK), sekaligus menjadi ruang kolaborasi lintas generasi di lingkungan gereja.
Berbeda dari tahun sebelumnya, pertunjukan tahun ini menggunakan bahasa Indonesia dengan nuansa musikal Barat melalui iringan mini orchestra. Pendekatan tersebut dipilih agar selaras dengan konsep musik yang diusung.
Supervisor dan Penyelaras Naskah sekaligus dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Yohanes Catur Wibowo, menjelaskan bahwa perubahan konsep dilakukan untuk memperluas jangkauan pesan kepada penonton.
“Nah, karena tahun ini kami dengan chamber dengan bahasa Indonesia, lalu lebih memang warnanya lebih mengedepankan Nusantara, Indonesia, tidak bahasa Jawa,” ujarnya.
Kolaborasi Anak Muda Jadi Kunci
Pementasan ini turut melibatkan mahasiswa ISI Jogja yang berkolaborasi dengan OMK Paroki Pugeran, PIR Remaja, Putra Altar, hingga Putri Sakristi.
Menurut Catur, keterlibatan generasi muda menjadi fokus utama sebagai upaya membangun masa depan gereja.
“Saya ajak untuk berkolaborasi dengan Orang Muda Katolik Paroki Pugeran... memang kami lebih arahnya untuk memberdayakan kaum muda sebagai masa depan gereja,” katanya.
Proses kreatif pementasan tidak lepas dari berbagai kendala, mulai dari waktu latihan yang hanya sekitar satu setengah bulan, kedisiplinan peserta, hingga keterbatasan anggaran.
Meski demikian, tim tetap mengandalkan partisipasi umat untuk mendukung jalannya produksi.
“Kendalanya pertama waktu yang singkat... lalu juga kendala di sisi anggaran, tetapi kami selalu berangkat dari apa yang ada,” ujarnya.
Di balik keterbatasan tersebut, ia mengaku sering menemukan hal di luar dugaan saat hari pementasan berlangsung.
“Sungguh, di luar dugaan karya Tuhan sungguh ada pada saat hari H pertunjukan semua hafal,” katanya.
Pastor Paroki HKTY Pugeran, Stefanus Arif Gunawan, menegaskan bahwa tablo ini menjadi sarana refleksi mendalam tentang makna salib sebagai simbol cinta.
“Salib tidak lagi menjadi lambang penderitaan semata, tapi menjadi tanda penyerahan diri yang total,” ujarnya.
Ia menambahkan, Jumat Agung menjadi momentum bagi umat untuk memahami bahwa kasih sejati selalu mengandung pengorbanan dan kesetiaan.
Rangkaian Tri Hari Suci di Gereja Pugeran dimulai dari Minggu Palma, dilanjutkan Kamis Putih, Jumat Agung, hingga Vigili Paskah sebagai perayaan kebangkitan Kristus.
“Di salib itulah cinta Tuhan semakin nyata,” kata Romo Stefanus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD DIY soroti dokumen renovasi Mandala Krida yang belum lengkap. MC-0 dan DED 2026 terancam tertunda.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.