Pertanian di DIY Makin Ditinggalkan

06 September 2013 11:52 WIB Jogja Share :

[caption id="attachment_444899" align="alignleft" width="448"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/06/pertanian-di-diy-makin-ditinggalkan-444892/petani-ilustrasi-tanam-padi-bisnis-indonesia-paulus-tandi-bone-5" rel="attachment wp-att-444899">http://images.harianjogja.com/2013/09/petani-ilustrasi-TANAM-PADI-Bisnis-Indonesia-Paulus-Tandi-Bone.jpg" alt="" width="448" height="299" /> Ilustrasi tanam padi (JIBI/Harian Jogja/Bisnis Indonesia)[/caption]

Harianjogja.com, JOGJA—Usaha yang terkait di bidang pertanian mulai ditinggalkan.

Merujuk pada Sensus Pertanian 2013 yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah usaha pertanian di DIY hanya mencapai 495.800 rumah tangga pertanian.

Angka tersebut turun jika dibandingkan sensus sebelumnya yakni pada 2003 lalu yang mencapai 574.300 rumah tangga pertanian.

"Jadi ada penurunan sebanyak 78.600 rumah tangga pertanian atau sekitar 1,37 persen setiap tahun," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Wien Kusdiatmono, Senin (2/9/2013).

Wien menjelaskan, yang dimaksud usaha pertanian dalam sensus tersebut yakni kegiatan yang menghasilkan produk pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasil produksi dijual atau ditukar atas resiko usaha. Usaha pertanian meliputi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan dan termasuk juga jasa pertanian.

Dia menambahkan, untuk DIY, terdapat tiga kabupaten yang memiliki usaha pertanian terbanyak. Tiga kabupaten tersebut yakni Kabupaten Gunungkidul dengan 166.300 usaha, Bantul dengan 127.900 usaha dan Sleman sebanyak 110.400 usaha.

"Sedangkan Kabupaten Kulonprogo hanya ada 88.700 usaha dan terkecil Kota Jogja yang hanya ada 2.500 usaha," jelas dia.

Dia menjelaskan, berdasarkan Sensus Pertanian 2013, penurunan jumlah usaha pertanian terbanyak secara absolut terjadi di Sleman yang turun sebesar 34.100 usaha. Namun secara persentase, penurunan terbanyak terjadi di Kota Jogja yang turun sebanyak 6,3%.