Ingin Aspirasi Didengar, Warga Jogja 'Mencari' Haryadi

14 September 2013 08:30 WIB Jumali Jogja Share :

[caption id="attachment_447245" align="alignleft" width="516"]http://www.harianjogja.com/?attachment_id=447245" rel="attachment wp-att-447245">http://images.harianjogja.com/2013/09/ilustrasi-siluet-reuters.jpg" alt="" width="516" height="353" /> Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Reuters)[/caption]

Harianjogja.com, JOGJA—Puluhan orang yang tergabung dalam berbagai komunitas di Jogja melakukan aksi happening art Kartu Pos Untuk Kota : Mimpi Buruk Untuk Haryadi di Kantor Pos Besar Jogja, Jumat (13/9/2013) sore.

Aksi itu dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi mereka, yang selama ini belum didengar oleh Walikota.
Adapun komunitas peserta aksi di antaranya adalah suporter PSIM, Kota untuk Manusia, Card to Post, seniman Jogja, Arsitek Komunitas Jogja, Komunitas difabel.

"Ini adalah salah satu langkah kami agar suara dan aspirasi kami didengar sama bapak Walikota Jogja," kata Daliho Kusbirin, koordinator aksi.

Selain aksi happening art, tambah dia, pihaknya juga masih memiliki serangkaian acara Festival Seni Mencari Haryadi. Rencananya festival yang terbuka untuk umum itu akan digelar pada Oktober.

"Tujuannya mempertanyakan kembali hilangnya peran negara dalam mengatasi persoalan yang ada," tandasnya.

Asisten II Pemkot Jogja Aman Yuriadijaya bersama Kepala Humas Pemkot Tri Hastono sempat datang ke Kantor Pos Besar Jogja. Tetapi langkah kedua birokrat itu tidak ditanggapi peserta aksi.

"Mereka memilih untuk menggunakan jalan mengirimkan ke kantor pos. Padahal saya menawarkan agar bisa kami bawa. Intinya Pemkot terbuka dengan berbagai media untuk menyampaikan aspirasinya," kata Aman.

Kepala Kantor Pos Besar Jogja, Ahmad Choirul Hadi mengatakan pihaknya telah bertemu dengan peserta aksi dan memastikan kartu pos yang mereka kirimkan akan ditindaklanjuti. "Kami sampaikan, jika surat mereka akan sampai besok," ucapnya.