Jogja Tak Perlu Kelas Khusus Olimpiade

20 September 2013 09:54 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

[caption id="attachment_449279" align="alignleft" width="431"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/20/jogja-tak-perlu-kelas-khusus-olimpiade-449271/siswa-sma-ilustrasi-antara-6" rel="attachment wp-att-449279">http://images.harianjogja.com/2013/09/siswa-SMA-ilustrasi-ANTARA3.jpg" alt="" width="431" height="336" /> Ilustrasi siswa SMA (JIBI/Harian Jogja/Antara)[/caption]

Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah daerah memiliki kelas khusus olimpiade untuk berjaya di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN). Namun, sejumlah siswa dan guru di Jogja tidak setuju bila ada kelas khusus olimpiade.

Sekadar diketahui, kontingen DIY menempati posisi enam pada pelaksanaan OSN tingkat SMA-MA 2013. Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Jogja Marmayadi, posisi tersebut tidak menjadi alasan perlunya pendirian kelas khusus olimpiade seperti di SMAN 3 Semarang.

“Tak perlu [kelas khusus olimpiade]. Jalani pendidikan secara alami saja,” ujarnya, Kamis (19/9/2013).

Menurut dia, dengan pola pendidikan yang dijalankan selama ini justru memberikan pengetahuan yang baik kepada setiap siswa. Bila kelas khusus olimpiade didirikan, maka siswa tersebut hanya menguasai bidang tertentu.

“Sebab, siswa di kelas olimpiade hanya fokus mempelajari mata pelajaran tertentu. Padahal siswa membutuhkan pengetahuan yang luas,” kata Marmayadi.

Sebagai gantinya, lanjut dia, setiap akhir September pihak sekolah menyeleksi siswa-siswa yang akan mengikuti ajang olimpiade baik tingkat kota, provinsi maupun nasional. Dari sembilan bidang yang dilombakan, seperti seperti Matematika, Fisika, Kebumian, Astronomi, Geografi dan Ekonomi, masing-masing bidang diminati oleh 40 hingga 50 siswa.

“Kami melakukan seleksi kemudian memilih 20 siswa di masing-masing bidang untuk mengikuti olimpiade tingkat kota,” terang dia.

Agar siswa terus berprestasi di ajang olimpiade, pihaknya melakukan beberapa evaluasi. Di antaranya adalah peningkatan pelatihan bagi siswa dari awalnya tiga kali pertemuan menjadi empat kali pertemuan.

“Selain itu, pada tahap kedua karantina kalau sebelumnya tidak melibatkan dosen, ke depan dosen yang kompeten akan kami libatkan untuk membimbing mereka,” ujarnya.

Galih Pradipto Wisnujati, siswa kelas XII IPA SMAN 1 Jogja, juga tidak setuju bila ada kelas khusus olimpiade. “Siswa tinggal diberi pelatihan saja, jadi tidak perlu ada kelas olimpiade. Sebab, materi yang diberikan di kelas itu berbeda dengan soal-soal di olimpiade,” kata siswa yang meraih medali perak OSN 2013 pada bidang Matematika itu.